SELAMAT DATANG DI PERSONAL BLOG ASEVY SOBARI

PKPU dan Kepailitan, Korporasi, HAKI, Pertanahan, Persaingan Usaha, Ketenagakerjaan, Keuangan Islam

PARTNER PADA FIRMA HUKUM ISNP LAWFIRM

ISNP LAWFIRM. Office: Summarecon - Bekasi, Rukan Sinpansa Blok D.20, Marga Mulya - Bekasi Utara 17143, Tlp. 0812.9090.4694, WA. 0812.8309.0895

ANGGOTA PERHIMPUNAN ADVOKAT INDONESIA (PERADI)

Diangkat dan disumpah berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat

KONSULTASI HUKUM DENGAN PERJANJIAN: 0812-8309-0895 (WA)

Legal Consultation, Legal Opinion, Legal Drafting, Legal Assistant (Retainer), Litigation

KONSULTASI HUKUM DENGAN PERJANJIAN: 0812-8309-0895 (WA)

Legal Consultation, Legal Opinion, Legal Drafting, Legal Assistant (Retainer), Litigation

Laman

Sabtu, 31 Oktober 2026

PENJAMIN EMISI FULL COMMITMENT | Siapa Menanggung Saham Yang Tak Laku?

Penjamin Emisi Full Commitment asevy sobari lawyer konsultan hukum sektor jasa keuangan firma hukum isnp law firm hkhsk
𝗝𝗮𝗻𝗷𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗶𝘀𝗮 𝗕𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗨𝘁𝗮𝗻𝗴


Setiap kali sebuah perusahaan melantai di bursa, di balik prospektusnya selalu ada satu kalimat yang jarang dibaca investor: penjamin emisi menjamin penawaran umum “dengan kesanggupan penuh (full commitment)”. Kalimat pendek ini sebenarnya janji yang sangat mahal. Ia berarti, kalau saham yang ditawarkan tidak habis dibeli publik, penjamin emisi wajib membeli sendiri sisanya.

Dasar hukumnya berangkat dari UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM), sebagaimana telah diubah dengan UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dan UU No. 4 Tahun 2026. Aturan teknisnya tersebar di beberapa Peraturan OJK, dan sepanjang 2025 sampai 2026 justru banyak yang diganti: POJK 13/2025 tentang Pengendalian Internal dan Perilaku Penjamin Emisi Efek, lalu POJK 3/2026 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perusahaan Efek, yang diundangkan 29 April 2026 dan langsung berlaku.

Tulisan ini membahas apa sebenarnya kontrak penjaminan emisi dengan kesanggupan penuh, siapa yang menanggung risikonya, dan di titik mana kontrak ini rawan diperdebatkan.

𝗖𝗮𝗿𝗮 𝗞𝗲𝗿𝗷𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸

Lalu apa itu penjaminan emisi? Sederhananya, emiten yang ingin menjual saham atau obligasi kepada publik tidak berjualan sendiri. Ia menunjuk Perusahaan Efek berizin Penjamin Emisi Efek (PEE) untuk menyiapkan penawaran umum, memasarkannya, menjatahkan efek kepada pemesan, lalu menyerahkan dananya kepada emiten.

UUPM sejak awal membuka dua pilihan. Pasal 1 angka 17 UUPM menyebutkan, “Penjamin Emisi Efek adalah Pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek yang tidak terjual.”

Frasa “dengan” kewajiban membeli sisa itulah yang dalam praktik disebut kesanggupan penuh (full commitment). Frasa “tanpa” kewajiban itu disebut kesanggupan terbaik (best effort). POJK 3/2026 kini menyebut kedua istilah ini secara eksplisit: penjaminan dilakukan “dengan kontrak penjaminan emisi Efek yang dapat berbentuk kesanggupan penuh atau kesanggupan terbaik” (Pasal 7 ayat (1) huruf a angka 1 dan Pasal 9 huruf a angka 1).

𝗖𝗼𝗻𝘁𝗼𝗵 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗴𝗶𝗻𝗶. PT Bebeb menawarkan 2 miliar saham baru di harga Rp 100 per saham, sehingga target dananya Rp 200 miliar. Penawaran ini dijamin oleh satu penjamin emisi secara full commitment atas seluruh saham yang ditawarkan. Ternyata publik hanya memesan 1,4 miliar saham. Sisa 600 juta saham, senilai Rp 60 miliar, wajib dibeli sendiri oleh penjamin emisi tersebut. PT Bebeb tetap menerima Rp 200 miliar penuh, dikurangi imbal jasa.

Dalam skema best effort, ceritanya lain. PT Bebeb hanya menerima Rp 140 miliar dari 1,4 miliar saham yang laku, dan penjamin emisi tidak berutang apa pun atas kekurangannya.

Ringkasnya, perbedaan keduanya terletak pada siapa yang menanggung risiko efek yang tidak laku. Dalam full commitment, sisa efek wajib dibeli penjamin emisi, sehingga emiten pasti menerima dana sebesar nilai yang dijamin. Dalam best effort, sisa efek tidak dibeli siapa pun dan kembali menjadi risiko emiten, sehingga dana yang terkumpul bergantung sepenuhnya pada minat pasar.

Konsekuensinya juga berbeda bagi penjamin emisi. Pada full commitment, ia menanggung risiko pasar dan risiko pendanaan, dan karena itu berhak atas imbal jasa yang lebih tinggi dengan komponen fee penjaminan. Pada best effort, risikonya terbatas pada reputasi dan keberhasilan pemasaran, dengan imbal jasa yang lebih rendah. Dalam praktik di Indonesia, full commitment lazim dipakai untuk IPO saham dan penawaran obligasi, sedangkan best effort jarang dipakai dan biasanya untuk emisi berskala kecil.

𝗗𝗶𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝘂𝗿𝘀𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴-𝗠𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴

𝗕𝗮𝗴𝗶 𝗲𝗺𝗶𝘁𝗲𝗻, full commitment adalah kepastian. Rencana ekspansi, pelunasan utang, atau akuisisi yang dibiayai dana IPO bisa dijalankan tanpa menebak-nebak berapa yang akan terkumpul. Harganya adalah imbal jasa yang lebih tinggi dan, dalam praktik, harga penawaran yang cenderung ditekan. Penjamin emisi yang menanggung risiko sisa tentu lebih suka harga yang mudah terserap pasar.

𝗕𝗮𝗴𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶, full commitment adalah bisnis menanggung risiko. Imbal jasanya menarik, tetapi satu IPO yang sepi peminat bisa membuat Perusahaan Efek tiba-tiba memegang saham bernilai puluhan miliar yang harus dibayar tunai. POJK 41/2020 tentang Penawaran Umum Elektronik tidak memberi ruang tawar soal ini. Pasal 50 ayat (2) menyatakan, “Penjamin Emisi Efek wajib menyediakan dana untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu paling lambat sebelum dilakukannya distribusi Efek oleh Penyedia Sistem.”

𝗕𝗮𝗴𝗶 𝗶𝗻𝘃𝗲𝘀𝘁𝗼𝗿, ada sinyal yang perlu dibaca. Saham sisa yang diserap penjamin emisi menandakan permintaan pasar sebenarnya lebih lemah dari kesan yang dibangun. Setelah saham tercatat, penjamin emisi yang memegang sisa itu bebas menjualnya, dan dari tekanan jual inilah yang kerap menjelaskan kenapa harga saham baru melemah di hari-hari awal. Karena itu, investor sebaiknya membaca bagian “Penjaminan Emisi Efek” di prospektus dan hasil penjatahan yang diumumkan, bukan hanya angka oversubscribe di berita.

𝗗𝗮𝗿𝗶 𝘀𝗶𝘀𝗶 𝗲𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶, full commitment memindahkan risiko pasar dari emiten ke lembaga yang dianggap paling mampu mengelolanya. Mekanisme ini membuat penawaran umum lebih dapat diandalkan sebagai sumber pembiayaan bagi emiten. Konsekuensinya, kesehatan permodalan penjamin emisi ikut menentukan stabilitas pasar perdana. Itulah alasan OJK mengikat kegiatan penjaminan dengan syarat modal yang makin ketat.

𝗞𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺𝗻𝘆𝗮

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻. Pasal 30 ayat (1) UUPM menetapkan bahwa kegiatan usaha Perusahaan Efek hanya dapat dilakukan Perseroan yang telah memperoleh izin usaha. Kewenangan pemberian izin yang dulu ada pada Bapepam kini beralih ke OJK berdasarkan Pasal 55 UU No. 21 Tahun 2011 tentang OJK, yang kerangkanya diperkuat UU P2SK. Penjamin emisi juga berbentuk Perseroan Terbatas, sehingga kewajiban direksinya tunduk pula pada UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT).

POJK 3/2026 kini mengelompokkan Perusahaan Efek dalam tiga tingkat. PEKU 2 hanya boleh menjalankan kegiatan PEE “secara terbatas” dengan modal disetor paling sedikit Rp 55 miliar dan MKBD paling sedikit Rp 50 miliar. PEKU 3 menjalankan kegiatan PEE secara penuh dengan modal disetor paling sedikit Rp 110 miliar dan MKBD paling sedikit Rp 100 miliar (Pasal 5, 20, dan 21). Pembatasan pentingnya ada di Pasal 7 ayat (2) huruf a: PEKU 2 “hanya dapat bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi Efek atas calon Emiten dengan aset skala kecil atau menengah”, yaitu sampai dengan Rp 250 miliar.

𝗜𝘀𝗶 𝗺𝗶𝗻𝗶𝗺𝘂𝗺 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸. Pasal 13 ayat (2) huruf b POJK 13/2025 mewajibkan kontrak penjaminan emisi antara PEE dan emiten paling sedikit memuat:
1. identitas para pihak;
2. pengungkapan ada atau tidaknya hubungan Afiliasi antara PEE dan Emiten;
3. sifat hubungan Afiliasi, jika ada;
4. tugas PEE sebagai penjamin pelaksana emisi Efek dan sebagai Penjamin Emisi Efek;
5. deskripsi Efek;
6. penjaminan, yang terdiri atas bentuk penjaminan, jumlah emisi, mekanisme penjatahan, serta bagian atau porsi Efek yang dijamin PEE, sendiri atau dengan sindikasi;
7. imbal jasa penata laksana emisi, imbal jasa penjaminan, dan imbal jasa penjualan;
8. persyaratan pendahuluan;
9. masa berlaku dan pengakhiran perjanjian;
10. uraian pendekatan atau metode penentuan harga Efek bersifat ekuitas; dan
11. uraian tentang penyelesaian perselisihan atau sengketa antara para Pihak.

POJK 13/2025 diundangkan 11 Juni 2025 dan berlaku enam bulan kemudian (Pasal 121). Aturan ini menggantikan antara lain POJK 4/POJK.04/2020 tentang perilaku PEE.

𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗮𝘄𝗮𝗿𝗮𝗻. Penjamin pelaksana emisi wajib melakukan uji tuntas terhadap emiten sebelum Pernyataan Pendaftaran disampaikan, dengan kertas kerja yang disimpan paling singkat 10 tahun (Pasal 14 POJK 13/2025). Selama penawaran, PEE bertanggung jawab atas pemasaran, penjatahan, pembayaran dana kepada emiten, dan pengembalian uang pesanan bila penawaran batal karena saham tidak dapat dicatatkan di Bursa Efek (Pasal 30).

Dua larangan langsung menyentuh full commitment. Pasal 31 POJK 13/2025 menyatakan, “Dalam hal terjadi kekurangan permintaan beli dalam Penawaran Umum, PEE, agen penjualan Efek, Afiliasi dari PEE, atau Afiliasi dari agen penjualan Efek dilarang menjual Efek yang telah dibeli atau akan dibelinya berdasarkan perjanjian penjaminan emisi Efek sampai dengan Efek tersebut dicatatkan di Bursa Efek.” Sebaliknya, bila terjadi kelebihan pesanan, Pasal 38 mewajibkan PEE mendahulukan pesanan pihak yang tidak terafiliasi daripada pesanan PEE sendiri dan afiliasinya.

𝗞𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝗴𝗮𝗴𝗮𝗹 𝗯𝗮𝘆𝗮𝗿. Pasal 50 ayat (1) POJK 41/2020 menegaskan, “Penjamin Emisi Efek wajib mematuhi perjanjian penjaminan emisi Efek yang dibuat dengan Emiten.” Bila dana tidak tersedia saat distribusi, Pasal 51 menjatuhkan larangan sementara perdagangan di Bursa Efek bagi PEE yang menjadi Anggota Bursa dan pembatasan akses ke Sistem Penawaran Umum Elektronik, sampai ada penetapan lebih lanjut dari OJK. Dana hasil penawaran wajib diserahkan Partisipan Admin kepada emiten paling lambat satu Hari Bursa sebelum pencatatan, dan ketentuan ini wajib dimuat dalam perjanjian penjaminan emisi (Pasal 53).

𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗽𝗿𝗼𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝘂𝘀. Pasal 80 ayat (1) UUPM menempatkan Penjamin Pelaksana Emisi Efek di antara pihak yang “wajib bertanggung jawab, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, atas kerugian yang timbul” bila Pernyataan Pendaftaran memuat informasi yang tidak benar tentang Fakta Material. Pembelaannya ada di ayat (3): pihak tersebut dapat lepas dari tanggung jawab bila membuktikan telah “bertindak secara profesional dan telah mengambil langkah-langkah yang cukup”. Pasal 81 ayat (1) memperluasnya kepada “Setiap Pihak yang menawarkan atau menjual Efek dengan menggunakan Prospektus”.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝗻𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝗹𝗮𝗻. Ketentuan penundaan masa penawaran umum masih merujuk pada Peraturan Nomor IX.A.2. Prospektus terkini mengutipnya sebagai hak emiten menunda paling lama tiga bulan sejak efektif, atau membatalkan, antara lain bila IHSG “turun melebihi 10% (sepuluh persen) selama tiga Hari Bursa berturut-turut”, terjadi bencana alam, perang, huru-hara, kebakaran, atau pemogokan yang berpengaruh signifikan, atau peristiwa lain yang ditetapkan OJK.

𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗽𝗼𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗗𝗶𝘁𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝗺𝘂𝗻𝗱𝘂𝗿 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗿𝘂𝗻𝘁𝘂𝗵? Hak menunda atau membatalkan karena IHSG turun lebih dari 10% dalam tiga Hari Bursa, bencana, atau perang dirumuskan sebagai hak emiten. POJK 13/2025 hanya mewajibkan kontrak memuat “persyaratan pendahuluan” serta “masa berlaku dan pengakhiran perjanjian”, tanpa merinci alasan pengakhiran yang sah bagi penjamin emisi. Akibatnya, klausul market out atau keadaan kahar sepenuhnya diserahkan pada rumusan kontrak.

Di sinilah sengketa biasanya lahir. Penjamin emisi bisa berdalih keadaan memaksa berdasarkan Pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata. Namun, menurut hemat saya, jatuhnya harga pasar adalah persis risiko yang dijual dalam full commitment, dan imbal jasa penjaminan dibayar justru untuk menanggungnya. Dalil kahar atas penurunan pasar semata akan sulit diterima, kecuali kontrak secara tegas memasukkannya sebagai alasan pengakhiran.

𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶, 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘁𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗴𝗮𝗴𝗮𝗹. Dalam simulasi PT Bebeb, seluruh 2 miliar saham dijamin satu penjamin emisi. Artinya, tidak ada pembagian porsi dan tidak ada anggota sindikasi yang bisa diminta menutup kekurangan. Bila penjamin emisi itu gagal menyediakan Rp 60 miliar untuk membeli sisa saham, Pasal 51 POJK 41/2020 memang menjatuhkan larangan perdagangan dan pembatasan akses sistem, tetapi sanksi itu tidak membayar emiten sepeser pun.

Posisinya juga rangkap. Penjamin emisi tunggal otomatis menjadi penjamin pelaksana emisi, dan karena Pasal 8 POJK 41/2020 mewajibkan Partisipan Admin berasal dari penjamin pelaksana emisi, ia pula yang menerima dana hasil penawaran untuk dan atas nama emiten (Pasal 53). Dana publik Rp 140 miliar dan kewajiban pembelian sisa Rp 60 miliar berada di tangan pihak yang sama. Pertanyaannya, bila penjamin emisi gagal bayar, bolehkah ia menahan atau memperjumpakan dana publik yang dipegangnya dengan imbal jasa atau klaim lain terhadap emiten? Menurut hemat saya, dana itu diterima “untuk dan atas nama Emiten” sehingga tidak dapat diperjumpakan, tetapi kontrak yang tidak mengaturnya secara tegas tetap membuka ruang sengketa.

Catatan ini berubah bila penawaran dijamin sindikasi penjamin emisi efek. Pasal 1282 KUHPerdata menyatakan perikatan tanggung renteng tidak dianggap ada kecuali dinyatakan tegas, sehingga emiten tidak otomatis dapat menagih kekurangan satu anggota sindikasi kepada anggota lainnya.

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗹𝗶. Dalam simulasi dengan satu penjamin emisi, kedudukannya sebagai penjamin pelaksana emisi membuat Pasal 80 ayat (1) UUPM langsung menjangkaunya bila Pernyataan Pendaftaran memuat informasi yang tidak benar tentang Fakta Material. Perdebatan tentang siapa saja yang bertanggung jawab baru melebar bila ada penjamin emisi peserta, karena Pasal 80 hanya menyebut penjamin pelaksana, sedangkan Pasal 81 ayat (1) menjangkau “Setiap Pihak yang menawarkan atau menjual Efek dengan menggunakan Prospektus”.

Sisi yang jarang dibahas justru muncul pada penjamin emisi tunggal. Setelah membeli 600 juta saham sisa, ia juga berkedudukan sebagai pembeli. Bila kemudian terungkap prospektus memuat informasi tidak benar, dapatkah ia menggugat PT Bebeb atas kerugiannya sebagai pemegang saham? Pasal 81 ayat (2) menutup hak pembeli yang “telah mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar”, dan penjamin pelaksana yang melakukan uji tuntas sendiri sulit mengaku tidak tahu.

𝗞𝗲𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁, 𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝘂𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻. Pasal 31 POJK 13/2025 hanya melarang penjualan sisa efek “sampai dengan Efek tersebut dicatatkan di Bursa Efek”. Sejak hari pertama perdagangan, penjamin emisi bebas melepasnya. Bagi investor ritel, ini risiko harga yang nyata. Bila pelepasan dilakukan dengan cara yang menciptakan gambaran semu atas permintaan atau harga, larangan dalam Pasal 90 sampai Pasal 92 UUPM tetap berlaku, dengan ancaman pidana dalam Pasal 104. Garis antara “melepas sisa penjaminan” dan “mengatur harga” inilah yang kerap diuji dalam pemeriksaan.

𝗞𝗲𝗹𝗶𝗺𝗮, 𝗲𝗺𝗶𝘁𝗲𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗯𝗮𝘆𝗮𝗿 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗮𝗶𝗹𝗶𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶. Kewajiban membeli sisa efek pada dasarnya utang uang yang sudah jatuh tempo. Namun permohonan pailit atau PKPU terhadap Perusahaan Efek tidak dapat diajukan kreditor secara langsung, melainkan melalui OJK, berdasarkan Pasal 8B UU OJK yang disisipkan melalui Pasal 8 angka 5 UU P2SK, jo. UU No. 37 Tahun 2004. Tata caranya diatur POJK 21/2022: kreditor, paling sedikit dua, harus lebih dulu mengajukan permohonan kepada OJK, yang menelaahnya paling lama 45 hari. Sepanjang yang saya telusuri, UU No. 4 Tahun 2026 tidak mengubah kewenangan eksklusif OJK ini. Jalur lain yang terbuka bagi emiten adalah gugatan wanprestasi atau arbitrase, sesuai klausul penyelesaian sengketa yang wajib ada dalam kontrak. Karena itu, rumusan forum sengketa dalam kontrak penjaminan bukan sekadar formalitas.

𝗞𝗲𝗲𝗻𝗮𝗺, 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝘁𝘂𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹. Karena penjamin emisi tunggal selalu bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi, batas dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a POJK 3/2026 langsung berlaku. PEKU 2 hanya boleh menjadi penjamin tunggal PT Bebeb bila aset PT Bebeb tidak lebih dari Rp 250 miliar. Di atas itu, penjamin tunggalnya harus PEKU 3.

Persoalannya ada pada ukuran komitmen. Dalam simulasi, penjamin emisi menjamin Rp 200 miliar dan harus membeli sisa Rp 60 miliar, sementara MKBD minimum PEKU 2 hanya Rp 50 miliar. Dari naskah yang saya telusuri, tidak saya dapati batas eksplisit nilai full commitment yang boleh diambil satu penjamin emisi dibandingkan modalnya, selain disiplin MKBD dan manajemen risiko. Apakah frasa “secara terbatas” dalam Pasal 5 ayat (2) cukup untuk membatasi hal ini, atau perlu aturan pelaksana tersendiri, belum terjawab tuntas.

𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗛𝗮𝗹 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗗𝗶𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁

1. Full commitment berarti penjamin emisi wajib membeli sendiri efek yang tidak laku, dan dananya wajib tersedia sebelum distribusi efek (Pasal 50 ayat (2) POJK 41/2020). Gagal menyediakan dana berujung larangan sementara perdagangan di bursa.
2. Kontrak penjaminan emisi kini wajib memuat sebelas unsur minimum menurut Pasal 13 ayat (2) POJK 13/2025, termasuk bentuk penjaminan, porsi efek yang dijamin, syarat pendahuluan, pengakhiran, dan penyelesaian sengketa.
3. Alasan penjamin emisi untuk mundur saat pasar bergejolak tidak diatur rinci oleh POJK. Tanpa klausul market out yang tegas, dalil keadaan memaksa atas penurunan harga pasar sulit diterima.
4. Dengan satu penjamin emisi, seluruh risiko gagal bayar terpusat pada satu pihak yang sekaligus memegang dana publik. Emiten perlu menilai kemampuan keuangan penjamin emisi sejak awal, mengatur larangan perjumpaan dana dalam kontrak, dan memilih forum sengketa dengan cermat karena pailit atau PKPU terhadap Perusahaan Efek hanya melalui OJK.
5. Investor perlu membaca hasil penjatahan dan porsi yang diserap penjamin emisi. Larangan menjual sisa efek hanya berlaku sampai pencatatan, setelah itu tekanan jual dapat datang dari penjamin emisi itu sendiri.
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

PENYELENGGARAAN BURSA MINERAL DAN KOMODITAS STRATEGIS - Tulisan Pertama

Penyelenggaraan bursa mineral dan komoditas strategis tulisan pertama asevy sobari lawyer konsultan hukum sektor jasa keuangan isnp law firm hkhsk
POJK 16/2026 mengatur cara kerja Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). yaitu: pasar yang terorganisir untuk perdagangan mineral dan komoditas strategis, termasuk derivatifnya, yang diatur dan diawasi oleh OJK.


Peraturan ini ditetapkan 17 September 2026 sebagai pelaksanaan Pasal 132A ayat (3) UU 4/2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) sebagaimana diubah dengan UU 4/2026, dan berlaku mulai 1 Januari 2027.

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗦𝗮𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗻𝘆𝗮

Penjelasan POJK membedakan dua hal yang mudah tertukar:
1. BMKS sebagai sistem pasarnya; dan
2. Bursa sebagai perseroan terbatas berizin OJK yang menjalankan fungsi perdagangan di dalam sistem pasar.

Pasal 2 menyebut 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗕𝗠𝗞𝗦 terdiri atas kelompok berikut.

B͟u͟r͟s͟a͟
Peran: Menyelenggarakan perdagangan dan menetapkan Peraturan Bursa.
Diawasi oleh OJK.

L͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ ͟K͟l͟i͟r͟i͟n͟g͟ ͟(͟L͟K͟)͟
Peran: Kliring, penjaminan, dan penyelesaian transaksi.
Diawasi oleh OJK.

L͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ ͟K͟u͟s͟t͟o͟d͟i͟a͟n͟ ͟E͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ ͟(͟L͟K͟E͟)͟
Peran: Mencatat, menyimpan, mengamankan, dan mengadministrasikan transaksi; menerbitkan Bukti Kepemilikan Elektronik.
Diawasi oleh OJK.

P͟e͟r͟a͟n͟t͟a͟r͟a͟ ͟P͟e͟r͟d͟a͟g͟a͟n͟g͟a͟n͟
Peran: Bertransaksi untuk diri sendiri dan/atau untuk Pengguna Jasa; berstatus Anggota Bursa.
Diawasi oleh OJK.

P͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟ ͟J͟a͟s͟a͟
Peran: Pihak yang memakai layanan BMKS; berstatus Anggota Bursa.
Diawasi oleh Bursa.

P͟e͟n͟g͟e͟l͟o͟l͟a͟ ͟G͟u͟d͟a͟n͟g͟
Peran: Mengelola gudang penyimpanan yang disetujui Bursa
Diawasi oleh Bursa.

L͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ ͟P͟e͟n͟i͟l͟a͟i͟ ͟K͟e͟s͟e͟s͟u͟a͟i͟a͟n͟ ͟(͟L͟P͟K͟)͟
Peran: Memeriksa mutu dan kuantitas.
Diawasi oleh Bursa.

P͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ ͟P͟e͟n͟u͟n͟j͟a͟n͟g͟ (akuntan publik, notaris, konsultan hukum)
Peran: Menyediakan jasa di sektor BMKS.
Wajib terdaftar di OJK

P͟i͟h͟a͟k͟ ͟L͟a͟i͟n͟
Dalam POJK 16/2026 tidak dijelaskan lebih lanjut siapa yang dimaksud dengan “pihak lain” dan apa perannya. Hanya saja “pihak lain” ditempatkan sebagai salah satu unsur anggota Bursa bersama Pengguna Jasa dan Perantara Perdagangan. Diawasi oleh Bursa.

Tiga infrastruktur inti yaitu Bursa, LK, dan LKE wajib berizin usaha dari OJK dan memenuhi modal disetor minimum.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶 𝗕𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻

Transaksi BMKS dilakukan melalui sistem perdagangan Bursa yang terintegrasi dengan infrastruktur BMKS, dalam tiga tahap (Pasal 49), sebagai berikut:

𝟭. 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻.

Mineral atau komoditas strategis hanya dapat diperdagangkan setelah memperoleh status layak diperdagangkan (tradable) dari LPK. Statusnya diberikan berdasarkan pemeriksaan mutu, verifikasi kuantitas, penyimpanan pada gudang yang disetujui Bursa, pemenuhan persyaratan administratif, dan persyaratan lain dalam Peraturan Bursa (Pasal 50 ayat 2). Setelah itu LKE menerbitkan Bukti Kepemilikan Elektronik (Pasal 51).

Gudang dan penilai mutu punya tanggung jawab sendiri. Pengelola Gudang wajib mendapat persetujuan Bursa dan bertanggung jawab atas penyimpanan dan penyerahan barang yang dikuasainya, dan tanggung jawab itu tidak beralih kepada Bursa atau OJK (Pasal 34 dan 35). LPK wajib berbadan hukum Indonesia, mendapat persetujuan Bursa, dan bertanggung jawab atas kesesuaian mutu dan kuantitas dengan standar yang berlaku (Pasal 36).

𝟮. 𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻.

Pengguna Jasa memasukkan order secara langsung atau melalui Perantara Perdagangan. Harga terbentuk dari mekanisme pasar. Harga transaksi dapat dipakai sebagai Harga Acuan Indonesia, dengan metodologi yang disusun oleh Bursa dan telah mendapat persetujuan OJK sebelumnya, dievaluasi berkala, dan dipublikasikan secara transparan.

OJK dapat memerintahkan Bursa menyesuaikan metodologi itu bila diperlukan untuk menjaga integritas pasar (Pasal 53 sampai 57).

Setiap produk wajib memiliki spesifikasi kontrak yang jelas: aset yang mendasari, mutu, satuan perdagangan, mekanisme penyelesaian, dan penyerahan fisik bila berlaku (Pasal 58).

𝟯. 𝗣𝗮𝘀𝗰𝗮-𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻.

Penyelesaian transaksi dilakukan melalui Lembaga Kliring (LK). Penyelesaian yang telah dilaksanakan sesuai Peraturan LK mengikat para pihak, dan LK wajib memiliki mekanisme penanganan kegagalan penyelesaian, termasuk penggunaan sumber daya keuangan sesuai dengan Peraturan LK (Pasal 60 sampai 62).
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

LAHIRNYA BURSA MINERAL DAN KOMODITAS STRATEGIS

Lahirnya Bursa Mineral dan Komoditas Strategis asevy sobari lawyer advokat konsultan hukum isnp lawyer hkhsk bappebti ojk
OJK baru saja menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 16 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (POJK 16/2026), ditetapkan 17 September 2026 dan mulai berlaku 1 Januari 2027.


Menariknya, dasar hukum POJK ini bukan berasal dari UU P2SK yang lahir tahun 2023, melainkan dari amandemennya yang baru saja disahkan: Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Bagian Menimbang POJK 16/2026 menyebutkan dengan tegas:

"bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 132A ayat (3) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penyelenggaraan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis."

Pasal 132A ini sama sekali tidak ada dalam UU P2SK versi awal 2023. Artinya kewenangan OJK mengatur bursa mineral dan komoditas strategis adalah kewenangan yang baru saja "dititipkan" ke dalam UU P2SK lewat revisi di 2026 yang hanya berselang hitungan bulan, POJK pelaksanaannya sudah terbit.

𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗕𝗮𝗽𝗽𝗲𝗯𝘁𝗶 𝗸𝗲 𝗢𝗝𝗞

Bursa komoditi bukan barang baru di Indonesia. Sejak Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011, kegiatan bursa berjangka komoditi termasuk emas, CPO, kopi, dan karet berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) di bawah Kementerian Perdagangan.

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) yang diatur POJK 16/2026 tidak lahir dari rezim UU 32/1997. Ia lahir dari rezim baru: UU P2SK, undang-undang sektor jasa keuangan. Konsekuensinya, OJK, yang menjadi regulator dan pengawas BMKS, bukan Bappebti/Kementerian Perdagangan.

Perpindahan ini bukan tanpa jejak administratif. Bersamaan dengan POJK 16/2026, OJK turut menerbitkan POJK Nomor 15 Tahun 2026 yang secara khusus mengatur tahapan peralihan kewenangan pengaturan dan pengawasan perdagangan berjangka komoditi dari Bappebti ke OJK.

Dua POJK tersebut terbit di hari yang sama, menunjukkan bahwa pembentukan BMKS memang dirancang bersamaan dengan pengalihan kewenangan kelembagaan, bukan sekadar produk hukum yang masing-masing berdiri sendiri.

𝗗𝗲𝗳𝗶𝗻𝗶𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗼𝗻𝘀𝗲𝗽𝘀𝗶 𝗕𝗠𝗞𝗦

Pasal 1 angka 3 POJK 16/2026 mendefinisikan BMKS sebagai:

"sistem pasar yang terorganisasi dan terintegrasi yang menyelenggarakan perdagangan Mineral Strategis dan Komoditas Strategis termasuk derivatifnya, yang didukung oleh ekosistem pendanaan, instrumen keuangan berbasis digital dengan mekanisme harga, mutu, penyelesaian transaksi, dan manajemen risiko sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang mengenai pengembangan dan penguatan sektor keuangan."

Penjelasan Umum POJK ini juga menegaskan pemisahan konsepsi yang menurut saya penting untuk dapat dipahami:

"BMKS merupakan suatu sistem pasar, sedangkan Bursa merupakan badan hukum yang menyelenggarakan dan mengoperasikan fungsi perdagangan dalam sistem pasar tersebut. Pemisahan konsepsi tersebut diperlukan untuk memberikan kejelasan mengenai hubungan antara Bursa dengan lembaga dan infrastruktur lain dalam penyelenggaraan BMKS."

Bursa sendiri, menurut Pasal 9, wajib memiliki modal disetor paling sedikit Rp. 1 Triliun, jumlah yang menurut hemat saya sengaja dipatok tinggi untuk membatasi pemain yang masuk hanya pada entitas dengan kapasitas permodalan besar.

𝗞𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴

Penjelasan Umum juga menyebutkan tujuan penyelenggaraan BMKS yang lebih luas dari sekadar administrasi bursa:

"membentuk Harga Acuan Indonesia, mendukung hilirisasi dan industrialisasi nasional, meningkatkan daya saing nasional, memperkuat ketahanan ekonomi nasional, menjaga integritas pasar, dan mengoptimalkan nilai tambah sumber daya alam dan komoditas Indonesia."

Frasa "Harga Acuan Indonesia" ini bukan basa-basi normatif. Presiden Prabowo Subianto secara terbuka pernah menyampaikan keresahan yang mendasari kebijakan ini:

"harga kekayaan kita...justru harganya ditentukan di luar negeri, di bursa komoditas negara lain."

Karena kenyataannya Indonesia hingga kini belum memiliki mekanisme pembentukan harga maupun harga acuan yang independen di tingkat domestik untuk komoditas ekspor andalannya, termasuk nikel, timah, sawit, batu bara, emas, kopi, dan karet.

Artinya: Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia, selama ini hanya menjadi 𝗽𝗿𝗶𝗰𝗲 𝘁𝗮𝗸𝗲𝗿 yang tunduk pada harga London Metal Exchange (LME), bukan 𝗽𝗿𝗶𝗰𝗲 𝗺𝗮𝗸𝗲𝗿 atas komoditas yang dihasilkan dari tanah tumpah darahnya sendiri.

Dibaca dari sudut pandang ini, POJK 16/2026 bukan semata produk hukum administratif turunan UU P2SK. Ia adalah instrumen kebijakan hilirisasi yang bergerak ke ranah baru: bukan lagi soal larangan ekspor mineral mentah seperti pada UU Minerba, melainkan soal siapa yang berhak menentukan harga jual komoditas strategis Indonesia di pasar dunia.

𝗕𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗞𝗲𝘄𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝗹𝘂 𝗗𝗶𝗰𝗲𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶

Di sinilah saya menemukan titik yang menurut saya paling perlu dicermati pelaku usaha pertambangan dan legal korporasi. Penjelasan Umum POJK 16/2026 menegaskan, "Pengaturan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengambil alih kewenangan kementerian, lembaga, atau otoritas lain yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan memiliki kewenangan terhadap aspek di luar transaksi dan penyelenggaraan pasar pada BMKS."

Artinya OJK sendiri mengakui ruang lingkup kewenangannya dibatasi hanya pada transaksi dan infrastruktur pasar BMKS, sementara aspek "di luar transaksi" seperti soal legalitas penambangan, RKAB, kewajiban DMO, sampai keabsahan kepemilikan fisik atas mineral tetap tunduk pada rezim Kementerian ESDM dan sektor lain di luar OJK.

Konsistensi dengan batasan ini juga saya temukan pada Penjelasan Pasal 50 ayat (1) yang menegaskan status layak diperdagangkan (tradable):

"tidak merupakan penetapan atau pengesahan kepemilikan atas Mineral Strategis dan Komoditas Strategis, dan tidak menghapus kewajiban pihak terkait untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai kepemilikan, asal-usul, pengangkutan, perdagangan, dan pengelolaan.”

Penjelasan Pasal 51 menegaskan hal serupa untuk Bukti Kepemilikan Elektronik:

"tidak dengan sendirinya merupakan penetapan mengenai keabsahan kepemilikan Mineral Strategis dan Komoditas Strategis di luar hubungan hukum yang tercatat dalam sistem BMKS."

Pertanyaannya, bagaimana bila status tradable dan Bukti Kepemilikan Elektronik telah diterbitkan, transaksi telah diselesaikan dan mengikat para pihak sesuai Pasal 61 ayat (2) yang menurut Penjelasannya:

"tidak dapat dibatalkan secara sepihak, kecuali dalam hal ditentukan lain berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan atau Peraturan LK”

namun belakangan muncul issue atas legalitas asal-usul mineral yang mendasarinya, entah karena praktik pertambangan ilegal, pelanggaran DMO, atau sengketa IUP?

POJK ini tidak menjawabnya. Ia hanya menegaskan bahwa status tradable dan BKE bukan penentu keabsahan kepemilikan, tanpa mengatur mekanisme apa yang berlaku terhadap transaksi yang sudah terlanjur mengikat di BMKS ketika issue legalitas itu muncul kemudian.

Menurut pendapat saya, celah ini berpotensi menjadi titik sengketa keperdataan tersendiri antara pembeli beritikad baik di BMKS dengan pihak yang mempersoalkan keabsahan mineral yang diperdagangkan tersebut. Lalu timbul pertanyaan: siapa yang menanggung risiko itu, hingga tulisan ini dibuat, belum terjawab tuntas dalam POJK 16/2026.

𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗧𝘂𝗹𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗶 𝗗𝗶𝗯𝘂𝗮𝘁

BMKS ditargetkan mulai beroperasi 1 Januari 2027. Objek "Mineral Strategis" dan "Komoditas Strategis" sendiri menurut Penjelasan Pasal 11 POJK ini baru akan ditetapkan lebih lanjut melalui Peraturan Presiden, yang hingga tulisan ini dibuat sepengetahuan saya belum dibuat atau diundangkan. Sementara itu, proses transisi kewenangan dari Bappebti ke OJK sudah berjalan lebih dulu berdasarkan POJK 15/2026, dan pelaku bursa berjangka komoditi eksisting yang sudah beroperasi di bawah rezim lama masih menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai posisi mereka begitu BMKS resmi berjalan dibawah pengaturan dan pengawasan OJK.
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

MEMBACA POJK PERALIHAN PENGATURAN PENGAWASAN BMKS

Membaca POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS asevy sobari lawyer advokat konsultan hukum isnp law firm hkhsk
𝗧𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝘁 𝗪𝗮𝗸𝘁𝘂 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗡𝘆𝗮𝗿𝗶𝘀 𝗟𝗲𝘄𝗮𝘁


UU No. 4 Tahun 2026 disahkan dan diundangkan oleh DPR pada 17 Juni 2026. Pasal II angka 7 huruf c UU tersebut mewajibkan OJK menuangkan mekanisme peralihan ini "paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan", artinya tenggat waktu jatuh pada 17 September 2026.

Peraturan OJK Nomor 15 Tahun 2026 tentang Penahapan Peralihan Tugas dan Wewenang Pengaturan dan Pengawasan Transaksi Pada Bursa Mineral dan Komoditas Strategis dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi ke Otoritas Jasa Keuangan (POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS) sendiri, ditetapkan dan diundangkan sehingga mulai berlaku tepat pada 17 September 2026. Tidak mendahului, tidak pula melewati, persis di hari terakhir tenggat konstitusional yang diberikan undang-undang. Menurut hemat saya, ini bukan sekadar detail administratif; ini indikator bahwa naskah POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS digodok dengan tenggat waktu yang sangat ketat, hal yang biasanya berkorelasi dengan besarnya kemungkinan pengaturan pelaksana yang menyusul kemudian.

𝗗𝘂𝗮 𝗛𝗮𝗹 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗮𝘁𝘂𝗿

POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS mengatur:

a. Peralihan kewenangan untuk pengaturan dan pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke OJK terhitung sejak tanggal 1 Januari 2027 (vide Pasal 3); dan

b. Ketentuan peralihan atas perizinan terkait dengan BMKS yang telah diterbitkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor perdagangan berjangka komoditi sebelum POJK berlaku (vide Pasal 8 ayat 1).

Dari huruf a, jelas terdapat dua tanggal yang perlu dibedakan, yaitu: POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS berlaku sejak 17 September 2026, tetapi kewenangan pengaturan dan pengawasannya baru efektif berpindah ke OJK sejak 1 Januari 2027.

Selama rentang +- 3 bulan itu, POJK sudah punya kekuatan hukum mengikat, namun secara substansi Bappebti-lah yang masih memegang kendali pengaturan dan pengawasan atas segmen ini. Ringkasnya, POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS berfungsi sebagai jembatan hukum, bukan serah terima kewenangan seketika.

𝗡𝗮𝘀𝗶𝗯 𝗜𝘇𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗺𝗮

Selanjutnya, huruf b di atas cukup menarik perhatian saya, karena: bagaimana persisnya perlakuan terhadap izin-izin yang sudah diterbitkan di bawah rezim perdagangan berjangka komoditi (rezim Bappebti) sebelum POJK ini berlaku?

Apakah izin tersebut otomatis dikonversi menjadi izin yang diakui OJK begitu 1 Januari 2027 tiba, ataukah pemegang izin tetap wajib mengajukan permohonan baru kepada OJK? Pertanyaan ini bukan pertanyaan kosong, karena pelaku usaha yang sudah beroperasi di bawah rezim lama (penyelenggara bursa, anggota bursa, lembaga kliring) adalah pihak yang paling berkepentingan mengetahui apakah kelangsungan izin mereka bergantung pada tindakan aktif atau berjalan otomatis demi hukum.

Jawabannya dapat kita temukan pada Pasal 8 ayat 1:

“Perizinan yang terkait dengan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang telah diterbitkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor perdagangan berjangka komoditi sampai dengan tanggal 31 Desember 2026 dinyatakan tetap berlaku.”

Dengan pembatasan pada ayat 2 sebagai berikut:

“Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi penyelenggara bursa, lembaga yang menyelenggarakan fungsi kliring dan penjaminan, lembaga yang menyelenggarakan fungsi kustodian elektronik, dan lembaga yang menyelenggarakan fungsi penilai kesesuaian.”

𝗞𝗲𝘄𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗢𝗝𝗞 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗢𝘁𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗔𝘁𝗮𝘂 𝗕𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝘁𝘂𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗕𝗲𝗿𝗼𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗕𝗠𝗞𝗦?

Pendalaman yang menurut saya patut kita cermati bersama adalah perihal peralihan kewenangan yang akan mulai berlaku 1 Januari 2027 berdasarkan POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS.
Sementara POJK Nomor 16 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (POJK Penyelenggaraan BMKS) yang menjadi pasangan dari POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS yang mengatur pelaku perdagangan, tata cara transaksi, tata kelola, hingga manajemen risiko BMKS juga baru berlaku 1 Januari 2027.

Pertanyaannya: apakah beralihnya kewenangan pengaturan dan pengawasan itu memang secara hukum berlaku otomatis pada tanggal tersebut atau digantungkan (bersyarat) pada mulai beroperasinya BMKS secara riil? Ataukah kedua tanggal itu kebetulan sama karena memang direncanakan dan diyakini dapat berjalan berbarengan?

Ini bukan soal semantik belaka, sebab jika BMKS yang berdasarkan POJK Penyelenggaraan BMKS ternyata belum siap beroperasi tepat pada 1 Januari 2027 , apakah Bappebti dianggap masih berwenang mengatur dan mengawasi residu kegiatan transaksi perdagangan yang sudah berjalan berdasarkan ketentuan sebelumnya ataukah terjadi kekosongan pengaturan dan pengawasan?

𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗽𝗽𝗲𝗯𝘁𝗶

Perlu ditegaskan, cakupan peralihan ini terbatas pada BMKS saja, bursa yang secara spesifik menyelenggarakan perdagangan mineral strategis dan komoditas strategis beserta derivatifnya.

POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS ini tidak menyentuh kewenangan Bappebti atas perdagangan berjangka komoditi di luar kategori "strategis" tersebut. Bappebti, dengan kata lain, tidak bubar, ia hanya kehilangan satu segmen kewenangan, bukan eksistensinya.
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

Jumat, 30 Oktober 2026

TRANSISI PENGATURAN DAN PENGAWASAN TRANSAKSI PADA BMKS DARI BAPPEBTI KE OJK

Membaca POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS asevy sobari lawyer advokat konsultan hukum isnp law firm hkhsk
𝗠𝗮𝗻𝗱𝗮𝘁 𝗨𝗨 𝗡𝗼. 𝟰 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟮𝟬𝟮𝟲


Peralihan pengaturan dan pengawasan atas transaksi pada bursa mineral dan komoditas strategis (BMKS) dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan mandat Pasal II angka 7 huruf c UU 4 Tahun 2026 jo. UU 4 Tahun 2023 Tentang P2SK (UU P2SK).

“𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘜𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘜𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘦𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘴𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘦𝘳𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘮𝘰𝘥𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘵𝘦𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘗𝘦𝘳𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘉𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘒𝘰𝘮𝘰𝘥𝘪𝘵𝘪 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢 𝘬𝘦 𝘖𝘵𝘰𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘑𝘢𝘴𝘢 𝘒𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘗𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘖𝘵𝘰𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘑𝘢𝘴𝘢 𝘒𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘰𝘯𝘴𝘶𝘭𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘋𝘗𝘙 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 3 (𝘵𝘪𝘨𝘢) 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘜𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘜𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯;”

Pasal II diatas merupakan ketentuan lanjutan dari Pasal 132A ayat 1 pada undang-undang yang sama yang memberikan mandat baru kepada OJK sebagai pengatur dan pengawas BMKS.

Apa yang akan dialihkan dari Bappebti ke OJK? Yang dialihkan adalah “𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘦𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘴𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘦𝘳𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘮𝘰𝘥𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘵𝘦𝘨𝘪𝘴”. Sementara yang dimaksud dengan bursa mineral dan komoditas strategis adalah “𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘰𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘦𝘨𝘳𝘢𝘴𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘦𝘳𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘮𝘰𝘥𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘵𝘦𝘨𝘪𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘥𝘦𝘳𝘪𝘷𝘢𝘵𝘪𝘧𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘥𝘶𝘬𝘶𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘦𝘬𝘰𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯, 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘬𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘴𝘪𝘴 𝘥𝘪𝘨𝘪𝘵𝘢𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘬𝘢𝘯𝘪𝘴𝘮𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢, 𝘮𝘶𝘵𝘶, 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘫𝘦𝘮𝘦𝘯 𝘳𝘪𝘴𝘪𝘬𝘰, …” sebagaimana dimaksud Pasal 132A UU P2SK.

Mineral dan komoditas strategis apa yang ditransaksikan yang akan diatur dan diawasi oleh OJK? Tidak kita temui penjelasan maupun rinciannya pada UU No. 4 Tahun 2026.

Selanjutnya atas mandat UU No. 4 Tahun 2026 tersebut, per 17 September 2026 OJK menerbitkan 𝗣𝗲𝗿𝗮𝘁𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗢𝘁𝗼𝗿𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗝𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗲𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗺𝗼𝗿 𝟭𝟱 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟮𝟬𝟮𝟲 Tentang Penahapan Peralihan Tugas dan Wewenang Pengaturan Dan Pengawasan Transaksi Pada Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Ke Otoritas Jasa Keuangan (POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS).

Pada POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS pun belum kita dapati apa yang dimaksud dengan mineral dan komoditas strategis.

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝘁𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘀𝗮 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗶𝘀𝗶

POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS merupakan aturan transisi sebelum sepenuhnya wewenang pengawasan dan pengaturan beralih ke OJK.

Sebagaimana kita ketahui bahwa UU No. 4 Tahun 2026 menetapkan pada Pasal II angka 7 huruf b wewenang pengawasan dan pengaturan baru efektif pada tanggal 1 Januari 2027 yakni +- 3 bulan setelah UU No. 4 Tahun 2026 diundangkan.

“𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶: 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘦𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘴𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘦𝘳𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘮𝘰𝘥𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘵𝘦𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘖𝘵𝘰𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘑𝘢𝘴𝘢 𝘒𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 1 𝘑𝘢𝘯𝘶𝘢𝘳𝘪 2027;”

Adanya jeda waktu antara diundangkannya UU No. 4 Tahun 2026 dan kapan OJK dapat melaksanakan wewenang pengaturan dan pengawasan transaksi pada bursa mineral dan komoditas tersebut secara penuh menimbulkan kemungkinan adanya kekosongan hukum maupun tumpang tindihnya kewenangan antara Bappebti dan OJK yang dikhawatirkan juga akan menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pelaku pasar atau pun calon pelaku pasar pada ekosistem perdagangan mineral dan komoditas.

Oleh karenanya diperlukan payung hukum yang menjembatani peralihan wewenang pengaturan dan pengawasan dari Bappebti ke OJK yakni POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan BMKS selama proses peralihan berlangsung.

Melalui POJK Peralihan Pengaturan Pengawasan diharapkan proses perizinan, persetujuan, tetap berjalan tertib dan memberikan kepastian berlakunya setelah peralihan kewenangan pengaturan pengawasan efektif menjadi ranah OJK sehingga tidak merugikan pelaku pasar atau pun calon pelaku pasar dikemudian hari.

𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗦𝘁𝗮𝗯𝗶𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗦𝗲𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗝𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗲𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Mengapa transaksi atau perdagangan mineral dan komoditas strategis mendapatkan pengaturan melalui UU No. 4 Tahun 2026? Salah satu jawabannya adalah karena jumlah transaksi atau perdagangan mineral dan komoditas strategis telah melibatkan nilai ekonomi yang besar yang tentunya memiliki dampak langsung maupun tidak langsung secara khusus terhadap sektor jasa keuangan dan secara umum bagi perekonomian nasional.

Oleh karenanya peralihan kewenangan pengaturan dan pengawasan atas transaksi kepada OJK secara mendadak dan tidak terstruktur berisiko menimbulkan guncangan pasar, gangguan pada ekosistem transaksi yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku pasar atau pun calon pelaku pasar.
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

KONTRAK PINTAR PADA SEKTOR JASA KEUANGAN

kontrak pintar smart contract kontrak elektronik sektor jasa keuangan asevy sobari advokat lawyer konsultan hukum isnp law firm hkhsk
Istilah kontrak pintar digunakan pertama kali pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 Tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Diatur pada Pasal 44 ayat 1 s.d ayat 4 UU P2SK yang merupakan bagian dari Bab V yang mengatur tentang pasar modal, pasar uang, dan pasar valuta asing.


𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸 𝗣𝗶𝗻𝘁𝗮𝗿

Pengertian dari Kontrak Pintar tidak dapat kita temui pada batang tubuh UU P2SK tapi dapat akan kita temui pada penjelasan Pasal 44 ayat 1 UU P2SK “𝘒𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 (𝘴𝘮𝘢𝘳𝘵 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘤𝘵) 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬.”

Dari penjelasan Pasal 44 ayat 1 tersebut dapat kita tafsirkan bahwa Kontrak Pintar merupakan salah satu jenis dari Kontrak Elektronik. Kontrak Elektronik berupa genus yang bersifat umum yang dapat digunakan pada seluruh transaksi elektronik lintas sektoral, sedangkan Kontrak Pintar merupakan species yang bersifat khusus dari Kontrak Elektronik sebagaimana akan dijelaskan pada bagian ruang lingkup dibawah ini.

Kontrak Elektronik sebagai genus yang bersifat umum tersebut yang dimaksud dalam penjelasan Pasal 44 ayat 1 jelas merujuk pada “𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬” yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 dan terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024.

𝗣𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸 𝗘𝗹𝗲𝗸𝘁𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸 𝗣𝗶𝗻𝘁𝗮𝗿

Jika Kontrak Elektronik pada Pasal 1 angka 17 UU ITE disebut sebagai “𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘚𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬.” yang selanjutnya pada Pasal 1 angka 5 UU ITE dijelaskan sistem elektronik sebagai “𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘥𝘶𝘳 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘧𝘶𝘯𝘨𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘢𝘭𝘪𝘴𝘪𝘴, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘶𝘮𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘐𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬.” maka secara sederhana dapat kita katakan Kontrak Elektronik merupakan output akhir dari sistem elektronik yang mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan dan mengirimkan informasi elektronik dari para pihak dalam transaksi elektronik.

Sistem elektronik yang digunakan sebelum pembuatan dan penerbitan Kontrak Elektronik yang disepakati oleh para pihak yang menghasilkan kontrak/perjanjian tersebut tidak lagi digunakan atau tidak lagi dimanfaatkan dalam pelaksanaan atau eksekusi hak dan kewajiban berdasarkan Kontrak Elektronik. Artinya pelaksanaan hak/kewajiban berdasarkan Kontrak Elektronik tersebut masih digantungkan dari kehendak para pihak.

Sementara pada Kontrak Pintar, sistem elektronik yang digunakan sebelum pembuatan dan penerbitan Kontrak Pintar yang disepakati oleh para pihak juga digunakan dan dimanfaatkan dalam pelaksanaan atau eksekusi hak dan kewajiban para pihak secara otomatis 𝘣𝘺 𝘴𝘺𝘴𝘵𝘦𝘮 (𝘣𝘺 𝘤𝘰𝘥𝘦) disaat kondisi terpenuhi.

Pasal 44 ayat 3 UU P2SK
“𝘗𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 (𝘴𝘮𝘢𝘳𝘵 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘤𝘵) 𝘥𝘪𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘰𝘵𝘰𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘮𝘢𝘳𝘵 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘤𝘵.”

Penjelasan 44 ayat 3 UU P2SK
“𝘒𝘦𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘭 (𝘯𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘭 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘶𝘢𝘨𝘦) 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘰𝘵𝘰𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘳𝘰𝘨𝘳𝘢𝘮𝘢𝘯 (𝘤𝘰𝘥𝘦) 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘮𝘢𝘳𝘵 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘤𝘵.”

Dari perbedaan ini (pelaksanaan atau eksekusi hak/kewajiban by system/by code) maka terdapat celah sengketa antara para pihak dalam Kontrak Pintar disaat sistem elektronik sudah “terlanjur” melaksanakan atau mengeksekusi hak/kewajiban para pihak secara otomatis by system/by code berdasarkan “tafsir system” atas kondisi yang terpenuhi sementara salah satu pihak memiliki perbedaan “tafsir” atas kondisi tersebut.

𝗥𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗟𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗽 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸 𝗣𝗶𝗻𝘁𝗮𝗿

Jika Kontrak Elektronik merupakan genus yang bersifat umum atas setiap perjanjian tertulis yang dibuat dalam setiap transaksi elektronik lintas sektoral, maka Kontrak Pintar merupakan salah satu species dari Kontrak Elektronik yang hanya dapat digunakan khusus pada transaksi pasar modal, pasar uang, pasar valuta asing dan termasuk transaksi instrumen derivatif.

Pasal 44 ayat 1 UU P2SK “𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘔𝘰𝘥𝘢𝘭, 𝘗𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘜𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘝𝘢𝘭𝘶𝘵𝘢 𝘈𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘋𝘦𝘳𝘪𝘷𝘢𝘵𝘪𝘧, 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 (𝘴𝘮𝘢𝘳𝘵 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘤𝘵) 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬.”

Kata “dapat” pada pasal tersebut artinya penggunaan Kontrak Pintar tergantung pada pilihan bebas dari para pihak yang khusus terlibat pada transaksi di pasar modal, pasar uang, dan pasar valuta asing untuk menggunakan Kontrak Pintar atau tidak menggunakan Kontrak Pintar.

𝗞𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗸𝗮𝘁 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸 𝗣𝗶𝗻𝘁𝗮𝗿

Pasal 44 ayat 2 UU P2SK ditentukan bahwa “𝘒𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 (𝘴𝘮𝘢𝘳𝘵 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘤𝘵) 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘤𝘦𝘵𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬.”

Jika untuk memberikan pengertian dari Kontrak Pintar UU P2SK merujuk kepada UU ITE, maka selanjutnya untuk menentukan sejauh mana kedudukan Kontrak Pintar sebagai alat bukti hukum yang sah UU P2SK juga merujuk kembali kepada UU ITE.

Dari bunyi Pasal 44 ayat 2 UU P2SK tersebut jelas bahwa kedudukan Kontrak Pintar sebagai alat bukti hukum yang sah tidak semata didasarkan pada kekuatan pasal tersebut tetapi juga juga didasarkan pada pengaturan dalam UU ITE.

Berikut ini ketentuan dari UU ITE yang dapat mempengaruhi kedudukan kontrak elektronik sebagai alat bukti hukum:

1. 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸 𝗣𝗶𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝗘𝗹𝗲𝗸𝘁𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗲𝘀𝘂𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗨𝗨 𝗜𝗧𝗘. Pasal 5 ayat 3 “𝘐𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘋𝘰𝘬𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘜𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘜𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪.”

2. 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂 𝗨𝘀𝗮𝗵𝗮 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗲𝗱𝗶𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗟𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿. Pasal 9 “𝘗𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘸𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘥𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘚𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬, 𝘱𝘳𝘰𝘥𝘶𝘴𝘦𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘥𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯.”

3. 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗻𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗻𝗱𝗮 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗘𝗹𝗲𝗸𝘁𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸 𝗣𝗶𝗻𝘁𝗮𝗿 sebagaimana Pasal 11.

4. 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗔𝘁𝗮𝘀 𝗧𝗮𝗻𝗱𝗮 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗘𝗹𝗲𝗸𝘁𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸. Pasal 12 ayat 1 “𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘛𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘛𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”

5. 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻 𝗜𝘁𝗶𝗸𝗮𝗱 𝗕𝗮𝗶𝗸 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶. Pasal 17 ayat 2 “𝘗𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘺𝘢𝘵 (1) 𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘥 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘶𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘐𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘋𝘰𝘬𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨.”

6. 𝗔𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗽𝗮𝗸𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝗘𝗹𝗲𝗸𝘁𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗔𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻. Pasal 19 “𝘗𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵𝘪.”

7. 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶. Sebagaimana diatur Pasal 21.

8. 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗱𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗙𝗶𝘁𝘂𝗿 𝗣𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶. Pasal 22 ayat 1 “𝘗𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘈𝘨𝘦𝘯 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘵𝘶𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘨𝘦𝘯 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘴 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪.”

Pemenuhan ketentuan UU ITE tersebut penting untuk dipertimbangkan dalam hal terjadi perselisihan diantara para pihak untuk mengukur sejauh mana kekuatan dari Kontrak Pintar yang sudah disepakati untuk digunakan sebagai alat bukti hukum oleh para pihak dalam menopang dalil yang diajukan di muka persidangan.
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.