SELAMAT DATANG DI PERSONAL BLOG ASEVY SOBARI

PKPU dan Kepailitan, Korporasi, HAKI, Pertanahan, Persaingan Usaha, Ketenagakerjaan, Keuangan Islam

PARTNER PADA FIRMA HUKUM ISNP LAWFIRM

ISNP LAWFIRM. Office: Summarecon - Bekasi, Rukan Sinpansa Blok D.20, Marga Mulya - Bekasi Utara 17143, Tlp. 0812.9090.4694, WA. 0812.8309.0895

ANGGOTA PERHIMPUNAN ADVOKAT INDONESIA (PERADI)

Diangkat dan disumpah berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat

KONSULTASI HUKUM DENGAN PERJANJIAN: 0812-8309-0895 (WA)

Legal Consultation, Legal Opinion, Legal Drafting, Legal Assistant (Retainer), Litigation

KONSULTASI HUKUM DENGAN PERJANJIAN: 0812-8309-0895 (WA)

Legal Consultation, Legal Opinion, Legal Drafting, Legal Assistant (Retainer), Litigation

Laman

Selasa, 03 November 2026

MENGENAL SHORT SELLING - Praktik Perdagangan dan Ketentuan Hukumnya

𝗠𝗘𝗡𝗚𝗘𝗡𝗔𝗟 𝗦𝗛𝗢𝗥𝗧 𝗦𝗘𝗟𝗟𝗜𝗡𝗚

𝘗𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘦𝘳𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘒𝘦𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘬𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢

MENGENAL SHORT SELLING asevy sobari lawyer konsultan hukum sektor jasa keuangan isnp law firm hkhsk
Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan kembali short selling secara bertahap mulai 15 September 2026, dan transaksinya mulai berjalan 1 Oktober 2026. Fasilitas ini sebenarnya sudah punya payung hukum sejak POJK 55/2020, lalu diganti POJK 6/2024.

Rencana pemberlakuan kembali tertunda sejak 2025 melalui beberapa surat OJK. Terakhir, Surat OJK S-113/D.04/2026 tanggal 9 September 2026 menjadi dasar pembukaan kembali. Yang lebih penting dari itu: apa sebenarnya short selling itu, dalam praktik dan menurut hukum?

𝗦𝗵𝗼𝗿𝘁 𝗦𝗲𝗹𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸 𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Transaksi saham yang lazim dikenal adalah: beli dulu, jual belakangan. Short selling membalik urutannya: jual dulu, beli belakangan. Investor menjual saham yang belum ia miliki, lalu membelinya kembali setelah harga turun.

Agar bisa menjual, sahamnya harus ada. Karena itu investor meminjam saham melalui perusahaan efek lewat mekanisme pinjam-meminjam efek. Alurnya begini:
a. investor menjual saham pinjaman di harga tinggi;
b. harga turun;
c. investor membeli kembali saham tersebut di harga lebih rendah (turun) dan mengembalikannya;
d.selisihnya menjadi keuntungan investor, dikurangi biaya.

Perhatikan ilustrasi berikut: Investor short saham senilai Rp1 juta, harga turun 10%, lalu ia membeli kembali di harga Rp. 900 ribu. Selisih Rp. 100 ribu belum keuntungan bersih: setidaknya biaya pinjam efek dan biaya transaksi jual dan beli.

Ada dua bentuk transaksi:
a. Short selling reguler: posisi bisa terbuka lebih dari satu Hari Bursa, sehingga butuh pinjam-meminjam efek dan ada biaya pinjam.
b. Intraday short selling: posisi harus ditutup pada Hari Bursa yang sama, sehingga tidak ada biaya pinjam efek.

Pihak Bursa menyebut manfaat dari short selling: likuiditas meningkat, pembentukan harga lebih wajar, dan investor bisa melindungi nilai portofolio (hedging).

Tapi, risikonya juga tidak kecil. Kalau harga naik, investor tetap wajib membeli kembali di harga lebih mahal. Harga saham secara teori bisa naik tanpa batas, sehingga kerugiannya tidak punya batas atas, berbeda dengan pembeli saham yang paling buruk kehilangan seluruh modalnya. Ada pula risiko margin call, pembelian paksa oleh perusahaan efek, dan gagal serah efek.

𝗦𝗵𝗼𝗿𝘁 𝗦𝗲𝗹𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗦𝗲𝗴𝗶 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺

𝗗𝗲𝗳𝗶𝗻𝗶𝘀𝗶. Pasal 1 angka 6 POJK 6/2024 menyebutkan:

“Transaksi Short Selling adalah transaksi penjualan Efek dimana Efek dimaksud tidak dimiliki oleh penjual pada saat transaksi dilaksanakan.”

Definisi ini tidak melarang, tidak pula mengizinkan bebas. Ia hanya menggambarkan transaksinya. Batasannya ada pada pasal-pasal lain.

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻? Perusahaan efek harus memiliki izin sebagai perantara pedagang efek, memenuhi Modal Kerja Bersih Disesuaikan, dan memperoleh persetujuan Bursa untuk transaksi short selling (Pasal 3). Ia juga wajib punya perikatan untuk meminjam efek dari Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Pendanaan Efek, perusahaan efek lain, bank kustodian, dan/atau pihak lain yang disetujui OJK (Pasal 6). Pembiayaan kepada satu nasabah atau nasabah terafiliasi dibatasi paling tinggi 10% dari Modal Kerja Bersih Disesuaikan (Pasal 22). Pembiayaan kepada komisaris, direktur, pemegang saham utama, pengendali, atau pegawai perusahaan efek beserta afiliasinya dilarang (Pasal 21).

𝗦𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝗡𝗮𝘀𝗮𝗯𝗮𝗵. Nasabah harus memiliki riwayat transaksi lancar dengan rekening efek reguler aktif, membuka Rekening Efek Pembiayaan Transaksi Short Selling, dan menyetor Jaminan Awal (Pasal 11). Perusahaan efek juga wajib memastikan nasabah telah menandatangani perjanjian pinjam-meminjam efek dan memahami hak serta kewajibannya (Pasal 32). Perjanjian pembiayaan wajib memuat klausul tingginya tingkat risiko investasi, hak perusahaan efek melikuidasi posisi tanpa persetujuan nasabah, dan jangka waktu pembiayaan paling lama 12 bulan yang dapat diperpanjang (Pasal 12).

𝗝𝗮𝗺𝗶𝗻𝗮𝗻. Pasal 34 ayat (1) mengatur Jaminan Awal paling sedikit 50% dari nilai transaksi short selling atau Rp. 50.000.000,00, “digunakan yang lebih tinggi”. Nilai Jaminan Pembiayaan saat short pertama paling sedikit 150% dari nilai transaksi (Pasal 35), dan wajib dipelihara paling sedikit 135% dari nilai pasar wajar efek pada posisi short (Pasal 36).

𝗠𝗮𝗿𝗴𝗶𝗻 𝗖𝗮𝗹𝗹. Jika jaminan turun di bawah 135%, perusahaan efek meminta pemenuhan/penambahan jaminan. Kalau tidak dipenuhi dalam 3 Hari Bursa, pada hari ke-4 perusahaan efek wajib membeli kembali efek yang di-short (Pasal 37 dan 38). Jika jaminan di bawah 120%, pembelian dilakukan segera (Pasal 39).

𝗕𝗮𝘁𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗢𝗿𝗱𝗲𝗿. Harga penawaran jual harus sama dengan atau di atas harga terakhir, dan order wajib diberi tanda “short selling” (Pasal 41). Short selling juga hanya boleh atas efek yang tercatat di Bursa (Pasal 13) dan yang ditetapkan Bursa dalam daftar efek short selling (Pasal 14).

𝗣𝗶𝗻𝗷𝗮𝗺-𝗠𝗲𝗺𝗶𝗻𝗷𝗮𝗺 𝗘𝗳𝗲𝗸. Kontrak wajib memuat, antara lain, hak suara, hak memesan efek terlebih dahulu, dividen, dan wanprestasi (Pasal 43). Kalau para pihak tidak memakai kontrak standar dari Lembaga Kliring dan Penjaminan, kontraknya wajib disertai pendapat hukum dari 2 (dua) konsultan hukum yang terdaftar di OJK (Pasal 45). Ini pekerjaan yang langsung menyentuh profesi konsultan hukum pasar modal.

𝗞𝗮𝗶𝘁𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗨𝗨 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗠𝗼𝗱𝗮𝗹. Short selling sah, tetapi larangan manipulasi pasar tetap berlaku. Pasal 91 UU Pasar Modal melarang tindakan yang bertujuan menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek. Pasal 92 melarang “2 (dua) transaksi Efek atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga menyebabkan harga Efek di Bursa Efek tetap, naik, atau turun dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli, menjual, atau menahan Efek.” Pelanggaran ketentuan POJK 6/2024 juga dapat dikenai sanksi administratif (Pasal 48).

𝗦𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗽𝗼𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗗𝗶𝘁𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, soal “modal Rp. 50 juta”. Pemberitaan menyebutnya modal awal minimal. Norma di Pasal 34 menyebutnya Jaminan Awal antara 50% nilai transaksi dan Rp. 50 juta, mana angka yang lebih tinggi itu yang digunakan. Misal, untuk transaksi short Rp. 200 juta, Jaminan Awalnya Rp. 100 juta. Rp50 juta hanya batas bawah, bukan angka tetap.

𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, syarat rekening reguler minimal 6 bulan. Pasal 11 POJK 6/2024 hanya menyebut “rekening Efek reguler aktif”. Pada penjelasan “rekening Efek reguler aktif” adalah rekening yang mempunyai saldo Efek dan dana serta ada mutasi Efek dan dana dalam jangka waktu 6 (enam) bulan berturut-turut.

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, kedudukan surat OJK. Penundaan berulang dilakukan lewat surat, bukan perubahan peraturan. Padahal POJK 6/2024 sudah berlaku sejak 2024. Dapatkah surat menunda pelaksanaan norma yang sudah berlaku, dan apa dasar kewenangannya? Anggota bursa sudah menyiapkan sistem, dan nasabah sudah terikat perjanjian. Dalam hal terjadi kerugian finansial yang menimpa pihak yang terlibat dalam transaksi short selling sesaat sebelum dilakukan penundaan, siapa yang bertanggung jawab? Pertanyaan yang sama berlaku bagi surat yang kini membuka kembali.

𝗞𝗲𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁, kriteria saham. Pasal 14 ayat (2) huruf d menyerahkan “kriteria khusus” kepada Bursa. BEI menyatakan saham LQ45 saja yang masuk, dan saham harga Rp. 50 “kemungkinan besar” tidak dapat di-short. Kata “kemungkinan besar” itu bukan norma, dan selama kriteria tertulisnya belum jelas bagi publik, tafsirnya terbuka bagi emiten yang sahamnya keluar-masuk daftar.

𝗞𝗲𝗹𝗶𝗺𝗮, batas antara strategi dan manipulasi. Pasal 92 UUPM bergantung pada frasa “dengan tujuan”. Membuktikan tujuan itu sulit ketika pelakunya berdalih sedang menjalankan strategi.

—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

PENYELENGGARAAN BURSA MINERAL DAN KOMODITAS STRATEGIS - Tulisan Kedua

Penyelenggaraan bursa mineral dan komoditas strategis tulisan kedua asevy sobari lawyer konsultan hukum sektor jasa keuangan isnp law firm hkhsk
𝗔𝘁𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗶𝗻, 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝘄𝗮𝘀𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗻𝗸𝘀𝗶 𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗻𝗶𝗽𝘂𝗹𝗮𝘀𝗶


Setiap pihak dilarang membuat kondisi perdagangan, harga, atau volume transaksi yang semu, menyesatkan, atau tidak mencerminkan mekanisme pasar yang wajar. Penjelasan Pasal 65 POJK 16/2026 menyebutkan antara lain:

“keadaan yang timbul dari transaksi, rangkaian transaksi, atau pemasukan order yang menciptakan gambaran yang tidak benar atau menyesatkan mengenai permintaan, penawaran, harga, volume, atau aktivitas perdagangan Mineral Strategis dan Komoditas Strategis.”

Selanjutnya ditentukan bahwa setiap pihak yang melakukan kegiatan dalam BMKS dilarang melakukan tindakan yang dapat mengganggu integritas pasar. Penjelasan Pasal 86 memberi contoh, yaitu:

“tindakan yang dapat menyebabkan pembentukan harga secara tidak wajar, menciptakan gambaran yang palsu atau menyesatkan mengenai aktivitas perdagangan, menyampaikan informasi yang palsu atau menyesatkan yang memengaruhi harga Mineral Strategis dan Komoditas Strategis, melakukan penguasaan pasar atau pemaksaan posisi (corner atau squeeze), melakukan perdagangan semu (wash trade) atau perdagangan kolusif, melanggar batas posisi, menyembunyikan identitas pemegang posisi, atau menyalahgunakan informasi.”

Bursa wajib mengawasi seluruh transaksi yang terjadi secara berkesinambungan, memiliki fungsi market surveillance yang independen, memantau konsentrasi posisi, dan melaporkan indikasi pelanggaran kepada OJK (Pasal 7, 63, 64, dan 68).

𝗞𝗲𝘄𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗢𝗝𝗞 𝗔𝘁𝗮𝘀 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿

Dalam kondisi tertentu OJK dapat memerintahkan Bursa menghentikan sementara perdagangan, membatasi perdagangan, atau menyesuaikan parameter perdagangan (Pasal 70).

𝗥𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼, 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶, 𝗗𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗹𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮 𝗝𝗮𝘀𝗮

Setiap Penyelenggara BMKS wajib menerapkan manajemen risiko termasuk risiko teknologi informasi, memiliki rencana keberlangsungan bisnis dan pusat pemulihan bencana, mencatat setiap transaksi secara elektronik, dan menyimpan data perdagangan.

Selain itu Penyelenggara BMKS juga wajib menerapkan kebijakan perlindungan Pengguna Jasa, yaitu informasi yang benar dan tidak menyesatkan, perlakuan adil, perlindungan data, penanganan pengaduan, dan penyelesaian sengketa, serta memiliki kebijakan benturan kepentingan.

Selanjutnya Penyelenggara BMKS dan Pihak lain yang ditetapkan oleh OJK tetap tunduk pada ketentuan OJK tentang APU-PPT-PPSPM, anti-fraud, dan pelindungan data pribadi.

𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸 𝗕𝗮𝗿𝘂

Bursa dapat mengembangkan berbagai produk, layanan, dan mekanisme perdagangan dengan persetujuan OJK. Di antaranya Instrumen Keuangan Berbasis Digital, yang wajib didukung dengan aset dasar yang dapat diverifikasi dan dicatat dalam sistem Bursa (Pasal 91), serta perdagangan derivatif, yang wajib didukung manajemen risiko, kliring, penyelesaian, pengawasan transaksi, dan pengaturan kontrak (Pasal 92).

𝗦𝗮𝗻𝗸𝘀𝗶

Pelanggaran dikenai sanksi administratif berupa peringatan tertulis, denda, pembatasan atau pembekuan kegiatan usaha, pencabutan izin usaha atau persetujuan, pembatalan persetujuan atau pendaftaran, pencabutan izin orang perseorangan, dan/atau tindakan administratif lain.

Sanksi selain peringatan tertulis dapat dijatuhkan dengan atau tanpa peringatan tertulis lebih dulu, dan denda dapat dijatuhkan sendiri maupun bersama sanksi lain. Sanksi dikenakan juga kepada pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran. OJK dapat mengumumkan sanksi kepada masyarakat (Pasal 103), dan sanksi administratif tidak menghapus kemungkinan tanggung jawab perdata dan/atau sanksi pidana (Pasal 105).

𝗕𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗮𝗻

𝗢𝗯𝗷𝗲𝗸 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗗𝗶𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁𝗸𝗮𝗻

Pasal 1 angka 2 mendefinisikan Komoditas Strategis sebagai:

"jenis komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan/atau bersifat strategis bagi kepentingan nasional sebagaimana diatur dan/atau ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan".

Definisi Mineral Strategis (Pasal 1 angka 1) juga merujuk pada ketentuan lain. Saya tidak mendapati satu pun jenis mineral atau komoditas yang disebut secara tegas dalam POJK ini. Artinya cakupan BMKS akan ditentukan oleh peraturan lain. Siapa yang menetapkannya, dan pada tingkat peraturan apa, belum dijawab.

𝗕𝘂𝗸𝘁𝗶 𝗞𝗲𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗘𝗹𝗲𝗸𝘁𝗿𝗼𝗻𝗶𝗸 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗮𝘀 𝗛𝗮𝗸

Penjelasan Pasal 51 menyebutkan Bukti Kepemilikan Elektronik

"tidak dengan sendirinya merupakan penetapan mengenai keabsahan kepemilikan Mineral Strategis dan Komoditas Strategis di luar hubungan hukum yang tercatat dalam sistem BMKS".

Penjelasan Pasal 50 ayat 1 juga menegaskan status layak diperdagangkan bukanlah penetapan atau pengesahan status kepemilikan.

Dapat saya tafsirkan, pembeli tidak boleh bersandar pada bukti elektronik semata: asal-usul dan keabsahan hak penjual tetap harus diupayakan untuk ditelusuri.

Lalu bagaimana bila barang yang sudah berstatus tradable belakangan bermasalah asal-usulnya? Tanggung jawab LPK dirumuskan pada kesesuaian mutu dan kuantitas (Pasal 36 ayat 4), bukan asal-usul, dan Pasal 35 ayat 3 hanya menyatakan tanggung jawab Pengelola Gudang tidak beralih kepada Bursa atau OJK. Pembagian tanggung jawab antara penjual, Pengelola Gudang, LPK, dan LKE dalam skenario barang berstatus tradable namun ternyata belakangan bermasalah asal-usulnya dan berpotensi menjadi masalah atau perselisihan hukum, tidak dijawab.

𝗞𝗲𝗽𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝘀𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗶𝗹𝗶𝘁𝗮𝗻

Penjelasan Pasal 61 ayat (2) menyatakan penyelesaian yang sesuai Peraturan LK:

"tidak dapat dibatalkan secara sepihak, kecuali dalam hal ditentukan lain berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan atau Peraturan LK".

Lalu, bagaimana bila salah satu pihak dinyatakan pailit atau berada dalam PKPU di antara transaksi dan penyelesaian? Kata "kecuali" membuka ruang tafsir tetapi tidak menunjuk ketentuan mana yang dimaksud, dan POJK tidak menyinggung UU Kepailitan dan PKPU.

𝗢𝗝𝗞 𝗦𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗟𝗲𝗺𝗯𝗮𝗴𝗮 𝗦𝘂𝗽𝗲𝗿 𝗕𝗼𝗱𝘆

Pasal 109 memberikan OJK kewenangan menetapkan:

"kebijakan berbeda mengenai pengawasan dan pelaksanaan kegiatan terkait BMKS selain yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini berdasarkan pertimbangan tertentu".

Penjelasannya memberi contoh seperti mendukung kebijakan nasional dan menjaga pertumbuhan industri, tetapi tidak membatasi bentuk kebijakan maupun seberapa jauh ia boleh menyimpang dari POJK itu sendiri.

𝗝𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗦𝗮𝗻𝗸𝘀𝗶 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗧𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴-𝗧𝗶𝗻𝗱𝗶𝗵

Pengelola Gudang dan LPK diawasi Bursa (Pasal 2 ayat 3). Namun Pasal 39 ayat 1 huruf e dan f mengatur sanksi administratif terhadap keduanya, sementara Pasal 102 mengatur OJK dapat memerintahkan Bursa bertindak terhadap mereka sesuai Peraturan Bursa. Ada dua jalur dan POJK tidak menjelaskan kapan dan jalur mana yang akan dipakai.

—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

TINDAK PIDANA DALAM KUHP BARU YANG BERSINGGUNGAN DENGAN SEKTOR JASA KEUANGAN - Tulisan Pertama

Tindak pidana kuhp baru bersinggungan sektor jasa keuangan asevy sobari lawyer konsultan hukum sektor jasa keuangan isnp law firm hkhsk
UU Nomor 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Baru) tidak memuat bab khusus untuk sektor jasa keuangan. Namun banyak pasalnya menyentuh kegiatan perbankan, pasar modal, perasuransian, pembiayaan, hingga fintech, baik sebagai sasaran kejahatan maupun sebagai pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban.


Kalau dipetakan dari sudut pandang sektor jasa keuangan, maka pasal-pasal KUHP Baru terdapat tiga posisi. 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, LJK dan nasabahnya sebagai korban, misalnya pembobolan sistem, pemalsuan dokumen, penipuan, atau penggelapan oleh orang dalam. 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, LJK sebagai sarana, misalnya rekening atau transaksi yang dipakai untuk mencuci uang. 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, LJK dan pengurusnya sebagai pelaku, misalnya laporan keuangan yang tidak benar atau perbuatan curang menjelang pailit. Pengelompokan di bawah ini mengikuti pola tersebut.

𝟭. 𝗞𝗘𝗝𝗔𝗛𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗦𝗜𝗕𝗘𝗥 𝗧𝗘𝗥𝗛𝗔𝗗𝗔𝗣 𝗦𝗜𝗦𝗧𝗘𝗠 𝗗𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗧𝗔 𝗞𝗘𝗨𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡

Ini kelompok yang paling langsung menyebut lembaga keuangan. Pasal 334 secara eksplisit menyebut bank sentral, lembaga perbankan, lembaga keuangan, penerbit kartu kredit, dan kartu pembayaran.

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 334
𝘋𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 10 (𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝𝘐, 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨:
𝘢. 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘮𝘱𝘢𝘶𝘪 𝘸𝘦𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘒𝘰𝘮𝘱𝘶𝘵𝘦𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘬𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘳𝘢𝘭, 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘳𝘣𝘪𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘴𝘢𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢;
𝘣. 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯;
𝘤. 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘮𝘱𝘢𝘶𝘪 𝘸𝘦𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘒𝘰𝘮𝘱𝘶𝘵𝘦𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘳𝘢𝘭, 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘪, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢; 𝘢𝘵𝘢𝘶
𝘥. 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘥𝘦 𝘈𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘰𝘣𝘰𝘴 𝘒𝘰𝘮𝘱𝘶𝘵𝘦𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘳𝘢𝘭, 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪.

𝘚𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘢𝘴, 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘪𝘭𝘦𝘨𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘧𝘢𝘵 𝘶𝘮𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘰𝘣𝘰𝘴 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯, 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘬𝘶𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘧𝘪𝘯𝘵𝘦𝘤𝘩, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪:

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 332
(1) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘒𝘰𝘮𝘱𝘶𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 6 (𝘦𝘯𝘢𝘮) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝.
(2) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘒𝘰𝘮𝘱𝘶𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘐𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘰𝘬𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 7 (𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝.
(3) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘒𝘰𝘮𝘱𝘶𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘚𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘰𝘣𝘰𝘴, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘮𝘱𝘢𝘶𝘪, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘣𝘰𝘭 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 8 (𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝𝘐.

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 258
(1) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢𝘮, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘐𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘋𝘰𝘬𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘌𝘭𝘦𝘬𝘵𝘳𝘰𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘧𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘣𝘭𝘪𝘬, 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘣𝘦𝘭 𝘬𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘫𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘳𝘬𝘢𝘣𝘦𝘭, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 10 (𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝𝘐.
(2) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘳𝘭𝘶𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘺𝘢𝘵 (1), 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 10 (𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝𝘐.

𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗝𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗲𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Pasal 334 huruf a dan c mengatur dua hal berbeda. Huruf a menyasar pengambilan informasi keuangan dan data laporan nasabah, sedangkan huruf c menyasar penyalahgunaan sistem elektronik lembaga keuangan itu sendiri. Huruf d menjangkau pihak yang memperjualbelikan kode akses, misalnya pemasok kredensial hasil pembobolan yang dapat mempengaruhi sistem elektronik dan perdagangan. Pasal 258 relevan bagi transmisi data transaksi yang tidak bersifat publik.

𝗣𝗼𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿

Frasa “melampaui wewenangnya” pada Pasal 334 huruf a dan c bisa menjerat orang dalam, misalnya karyawan bank yang mengakses data nasabah di luar kebutuhan tugas. Batas antara pelanggaran disiplin internal atau kode etik dan tindak pidana menjadi kabur bila tidak ada standar operasional prosedur dalam melakukan akses yang jelas dan terdokumentasi. Pasal 334 juga berdampingan dengan pengaturan pelindungan data pribadi dan UU sektoral. Pasal 125 ayat (2) menyatakan aturan pidana khusus didahulukan atas aturan pidana umum, sehingga siapa yang “mengalahkan” siapa akan menjadi bahan perdebatan mulai tingkat penyelidikan hingga pemeriksaan dipersidangan.

𝟮. 𝗣𝗘𝗠𝗔𝗟𝗦𝗨𝗔𝗡 𝗗𝗢𝗞𝗨𝗠𝗘𝗡 𝗗𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗧𝗘𝗥𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡

Dokumen adalah bahan baku bisnis keuangan: akta, perjanjian kredit, jaminan, saham, surat berharga, dan keterangan nasabah. Bab pemalsuan surat memberi perlindungan berlapis, dan ancamannya naik ketika objeknya adalah dokumen yang bernilai finansial.

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 391
(1) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘴𝘶 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘬, 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘨𝘪𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘭𝘴𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 6 (𝘦𝘯𝘢𝘮) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝𝘐.
(2) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶, 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘵 (1).

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 392
(1) 𝘋𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 8 (𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯, 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘭𝘴𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱:
𝘢. 𝘢𝘬𝘵𝘢 𝘢𝘶𝘵𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬;
𝘣. 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘯𝘦𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘢 𝘶𝘮𝘶𝘮;
𝘤. 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘮, 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘮, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯, 𝘺𝘢𝘺𝘢𝘴𝘢𝘯, 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘰𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘬𝘶𝘵𝘶𝘢𝘯;
𝘥. 𝘵𝘢𝘭𝘰𝘯, 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘷𝘪𝘥𝘦𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘶𝘳𝘶𝘧 𝘣 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘳𝘶𝘧 𝘤 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵;
𝘦. 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘳𝘦𝘥𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘦𝘥𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯;
𝘧. 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩; 𝘢𝘵𝘢𝘶
𝘨. 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯.
(2) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘺𝘢𝘵 (1) 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶, 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘨𝘪𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘺𝘢𝘵 (1).

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 394
𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘵𝘢 𝘢𝘶𝘵𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘢𝘬𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘨𝘪𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 7 (𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝𝘐.

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 400
𝘋𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 4 (𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘐𝘝, 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨:
𝘢. 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘴𝘶 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘦𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘬 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘮𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘨𝘢𝘬 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵; 𝘢𝘵𝘢𝘶
𝘣. 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘶𝘳𝘶𝘧 𝘢, 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶.

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 396
𝘋𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 3 (𝘵𝘪𝘨𝘢) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 6 (𝘦𝘯𝘢𝘮) 𝘉𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘵𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪 𝘝, 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨:
𝘢. 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘴𝘶 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘤𝘢𝘤𝘢𝘵, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘶𝘳𝘢𝘯𝘴𝘪; 𝘢𝘵𝘢𝘶
𝘣. 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶, 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘫𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘶𝘳𝘢𝘯𝘴𝘪.

𝘗𝘢𝘴𝘢𝘭 373
(1) 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘣𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶, 𝘥𝘪𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘥𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 7 (𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩) 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯.
(2) 𝘋𝘪𝘴𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘺𝘢𝘵 (1) 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨-𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩.

𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗝𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗲𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Pasal 392 ayat (1) huruf b sampai e menyebut surat utang, saham, sertifikat saham, talon, tanda bukti dividen dan bunga, serta surat kredit atau surat dagang. Itulah instrumen inti pasar modal dan pembiayaan.

Pasal 391 dan 400 relevan bagi dokumen agunan dan kepemilikan aset. Pasal 396 relevan bagi klaim asuransi jiwa dan kesehatan.

Pasal 373 relevan bagi pernyataan di atas sumpah dalam proses hukum, termasuk sengketa dan perkara pasar modal, PKPU dan kepailitan.

𝗕𝗲𝗿𝗽𝗼𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗦𝗲𝗻𝗴𝗸𝗲𝘁𝗮 𝗧𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿

Pasal 391 dan 392 mensyaratkan bahwa penggunaan surat “dapat menimbulkan kerugian”. Frasa ini merumuskan potensi kerugian, bukan kerugian yang sudah nyata. Karena itu batas antara kekeliruan administratif dan pemalsuan pidana bergantung pada pembuktian niat (“dengan maksud untuk menggunakan ... seolah-olah isinya benar”).

Pada Pasal 394, tanggung jawab pihak yang meminta memasukkan keterangan dan pejabat pembuat akta sering menjadi titik perdebatan, khususnya bila keterangan bersumber dari dokumen yang disodorkan debitur atau nasabah. Perdebatan terjadi dalam rangka memastikan ada atau tidaknya mens rea dan beban tanggung jawab pidana. (...bersambung)

—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

Sabtu, 31 Oktober 2026

PENJAMIN EMISI FULL COMMITMENT | Siapa Menanggung Saham Yang Tak Laku?

Penjamin Emisi Full Commitment asevy sobari lawyer konsultan hukum sektor jasa keuangan firma hukum isnp law firm hkhsk
𝗝𝗮𝗻𝗷𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗶𝘀𝗮 𝗕𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗨𝘁𝗮𝗻𝗴


Setiap kali sebuah perusahaan melantai di bursa, di balik prospektusnya selalu ada satu kalimat yang jarang dibaca investor: penjamin emisi menjamin penawaran umum “dengan kesanggupan penuh (full commitment)”. Kalimat pendek ini sebenarnya janji yang sangat mahal. Ia berarti, kalau saham yang ditawarkan tidak habis dibeli publik, penjamin emisi wajib membeli sendiri sisanya.

Dasar hukumnya berangkat dari UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM), sebagaimana telah diubah dengan UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dan UU No. 4 Tahun 2026. Aturan teknisnya tersebar di beberapa Peraturan OJK, dan sepanjang 2025 sampai 2026 justru banyak yang diganti: POJK 13/2025 tentang Pengendalian Internal dan Perilaku Penjamin Emisi Efek, lalu POJK 3/2026 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Perusahaan Efek, yang diundangkan 29 April 2026 dan langsung berlaku.

Tulisan ini membahas apa sebenarnya kontrak penjaminan emisi dengan kesanggupan penuh, siapa yang menanggung risikonya, dan di titik mana kontrak ini rawan diperdebatkan.

𝗖𝗮𝗿𝗮 𝗞𝗲𝗿𝗷𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸

Lalu apa itu penjaminan emisi? Sederhananya, emiten yang ingin menjual saham atau obligasi kepada publik tidak berjualan sendiri. Ia menunjuk Perusahaan Efek berizin Penjamin Emisi Efek (PEE) untuk menyiapkan penawaran umum, memasarkannya, menjatahkan efek kepada pemesan, lalu menyerahkan dananya kepada emiten.

UUPM sejak awal membuka dua pilihan. Pasal 1 angka 17 UUPM menyebutkan, “Penjamin Emisi Efek adalah Pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek yang tidak terjual.”

Frasa “dengan” kewajiban membeli sisa itulah yang dalam praktik disebut kesanggupan penuh (full commitment). Frasa “tanpa” kewajiban itu disebut kesanggupan terbaik (best effort). POJK 3/2026 kini menyebut kedua istilah ini secara eksplisit: penjaminan dilakukan “dengan kontrak penjaminan emisi Efek yang dapat berbentuk kesanggupan penuh atau kesanggupan terbaik” (Pasal 7 ayat (1) huruf a angka 1 dan Pasal 9 huruf a angka 1).

𝗖𝗼𝗻𝘁𝗼𝗵 𝘀𝗲𝗱𝗲𝗿𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗴𝗶𝗻𝗶. PT Bebeb menawarkan 2 miliar saham baru di harga Rp 100 per saham, sehingga target dananya Rp 200 miliar. Penawaran ini dijamin oleh satu penjamin emisi secara full commitment atas seluruh saham yang ditawarkan. Ternyata publik hanya memesan 1,4 miliar saham. Sisa 600 juta saham, senilai Rp 60 miliar, wajib dibeli sendiri oleh penjamin emisi tersebut. PT Bebeb tetap menerima Rp 200 miliar penuh, dikurangi imbal jasa.

Dalam skema best effort, ceritanya lain. PT Bebeb hanya menerima Rp 140 miliar dari 1,4 miliar saham yang laku, dan penjamin emisi tidak berutang apa pun atas kekurangannya.

Ringkasnya, perbedaan keduanya terletak pada siapa yang menanggung risiko efek yang tidak laku. Dalam full commitment, sisa efek wajib dibeli penjamin emisi, sehingga emiten pasti menerima dana sebesar nilai yang dijamin. Dalam best effort, sisa efek tidak dibeli siapa pun dan kembali menjadi risiko emiten, sehingga dana yang terkumpul bergantung sepenuhnya pada minat pasar.

Konsekuensinya juga berbeda bagi penjamin emisi. Pada full commitment, ia menanggung risiko pasar dan risiko pendanaan, dan karena itu berhak atas imbal jasa yang lebih tinggi dengan komponen fee penjaminan. Pada best effort, risikonya terbatas pada reputasi dan keberhasilan pemasaran, dengan imbal jasa yang lebih rendah. Dalam praktik di Indonesia, full commitment lazim dipakai untuk IPO saham dan penawaran obligasi, sedangkan best effort jarang dipakai dan biasanya untuk emisi berskala kecil.

𝗗𝗶𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝘂𝗿𝘀𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴-𝗠𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴

𝗕𝗮𝗴𝗶 𝗲𝗺𝗶𝘁𝗲𝗻, full commitment adalah kepastian. Rencana ekspansi, pelunasan utang, atau akuisisi yang dibiayai dana IPO bisa dijalankan tanpa menebak-nebak berapa yang akan terkumpul. Harganya adalah imbal jasa yang lebih tinggi dan, dalam praktik, harga penawaran yang cenderung ditekan. Penjamin emisi yang menanggung risiko sisa tentu lebih suka harga yang mudah terserap pasar.

𝗕𝗮𝗴𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶, full commitment adalah bisnis menanggung risiko. Imbal jasanya menarik, tetapi satu IPO yang sepi peminat bisa membuat Perusahaan Efek tiba-tiba memegang saham bernilai puluhan miliar yang harus dibayar tunai. POJK 41/2020 tentang Penawaran Umum Elektronik tidak memberi ruang tawar soal ini. Pasal 50 ayat (2) menyatakan, “Penjamin Emisi Efek wajib menyediakan dana untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu paling lambat sebelum dilakukannya distribusi Efek oleh Penyedia Sistem.”

𝗕𝗮𝗴𝗶 𝗶𝗻𝘃𝗲𝘀𝘁𝗼𝗿, ada sinyal yang perlu dibaca. Saham sisa yang diserap penjamin emisi menandakan permintaan pasar sebenarnya lebih lemah dari kesan yang dibangun. Setelah saham tercatat, penjamin emisi yang memegang sisa itu bebas menjualnya, dan dari tekanan jual inilah yang kerap menjelaskan kenapa harga saham baru melemah di hari-hari awal. Karena itu, investor sebaiknya membaca bagian “Penjaminan Emisi Efek” di prospektus dan hasil penjatahan yang diumumkan, bukan hanya angka oversubscribe di berita.

𝗗𝗮𝗿𝗶 𝘀𝗶𝘀𝗶 𝗲𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶, full commitment memindahkan risiko pasar dari emiten ke lembaga yang dianggap paling mampu mengelolanya. Mekanisme ini membuat penawaran umum lebih dapat diandalkan sebagai sumber pembiayaan bagi emiten. Konsekuensinya, kesehatan permodalan penjamin emisi ikut menentukan stabilitas pasar perdana. Itulah alasan OJK mengikat kegiatan penjaminan dengan syarat modal yang makin ketat.

𝗞𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺𝗻𝘆𝗮

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻. Pasal 30 ayat (1) UUPM menetapkan bahwa kegiatan usaha Perusahaan Efek hanya dapat dilakukan Perseroan yang telah memperoleh izin usaha. Kewenangan pemberian izin yang dulu ada pada Bapepam kini beralih ke OJK berdasarkan Pasal 55 UU No. 21 Tahun 2011 tentang OJK, yang kerangkanya diperkuat UU P2SK. Penjamin emisi juga berbentuk Perseroan Terbatas, sehingga kewajiban direksinya tunduk pula pada UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT).

POJK 3/2026 kini mengelompokkan Perusahaan Efek dalam tiga tingkat. PEKU 2 hanya boleh menjalankan kegiatan PEE “secara terbatas” dengan modal disetor paling sedikit Rp 55 miliar dan MKBD paling sedikit Rp 50 miliar. PEKU 3 menjalankan kegiatan PEE secara penuh dengan modal disetor paling sedikit Rp 110 miliar dan MKBD paling sedikit Rp 100 miliar (Pasal 5, 20, dan 21). Pembatasan pentingnya ada di Pasal 7 ayat (2) huruf a: PEKU 2 “hanya dapat bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi Efek atas calon Emiten dengan aset skala kecil atau menengah”, yaitu sampai dengan Rp 250 miliar.

𝗜𝘀𝗶 𝗺𝗶𝗻𝗶𝗺𝘂𝗺 𝗸𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮𝗸. Pasal 13 ayat (2) huruf b POJK 13/2025 mewajibkan kontrak penjaminan emisi antara PEE dan emiten paling sedikit memuat:
1. identitas para pihak;
2. pengungkapan ada atau tidaknya hubungan Afiliasi antara PEE dan Emiten;
3. sifat hubungan Afiliasi, jika ada;
4. tugas PEE sebagai penjamin pelaksana emisi Efek dan sebagai Penjamin Emisi Efek;
5. deskripsi Efek;
6. penjaminan, yang terdiri atas bentuk penjaminan, jumlah emisi, mekanisme penjatahan, serta bagian atau porsi Efek yang dijamin PEE, sendiri atau dengan sindikasi;
7. imbal jasa penata laksana emisi, imbal jasa penjaminan, dan imbal jasa penjualan;
8. persyaratan pendahuluan;
9. masa berlaku dan pengakhiran perjanjian;
10. uraian pendekatan atau metode penentuan harga Efek bersifat ekuitas; dan
11. uraian tentang penyelesaian perselisihan atau sengketa antara para Pihak.

POJK 13/2025 diundangkan 11 Juni 2025 dan berlaku enam bulan kemudian (Pasal 121). Aturan ini menggantikan antara lain POJK 4/POJK.04/2020 tentang perilaku PEE.

𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗮𝘄𝗮𝗿𝗮𝗻. Penjamin pelaksana emisi wajib melakukan uji tuntas terhadap emiten sebelum Pernyataan Pendaftaran disampaikan, dengan kertas kerja yang disimpan paling singkat 10 tahun (Pasal 14 POJK 13/2025). Selama penawaran, PEE bertanggung jawab atas pemasaran, penjatahan, pembayaran dana kepada emiten, dan pengembalian uang pesanan bila penawaran batal karena saham tidak dapat dicatatkan di Bursa Efek (Pasal 30).

Dua larangan langsung menyentuh full commitment. Pasal 31 POJK 13/2025 menyatakan, “Dalam hal terjadi kekurangan permintaan beli dalam Penawaran Umum, PEE, agen penjualan Efek, Afiliasi dari PEE, atau Afiliasi dari agen penjualan Efek dilarang menjual Efek yang telah dibeli atau akan dibelinya berdasarkan perjanjian penjaminan emisi Efek sampai dengan Efek tersebut dicatatkan di Bursa Efek.” Sebaliknya, bila terjadi kelebihan pesanan, Pasal 38 mewajibkan PEE mendahulukan pesanan pihak yang tidak terafiliasi daripada pesanan PEE sendiri dan afiliasinya.

𝗞𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝗴𝗮𝗴𝗮𝗹 𝗯𝗮𝘆𝗮𝗿. Pasal 50 ayat (1) POJK 41/2020 menegaskan, “Penjamin Emisi Efek wajib mematuhi perjanjian penjaminan emisi Efek yang dibuat dengan Emiten.” Bila dana tidak tersedia saat distribusi, Pasal 51 menjatuhkan larangan sementara perdagangan di Bursa Efek bagi PEE yang menjadi Anggota Bursa dan pembatasan akses ke Sistem Penawaran Umum Elektronik, sampai ada penetapan lebih lanjut dari OJK. Dana hasil penawaran wajib diserahkan Partisipan Admin kepada emiten paling lambat satu Hari Bursa sebelum pencatatan, dan ketentuan ini wajib dimuat dalam perjanjian penjaminan emisi (Pasal 53).

𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗽𝗿𝗼𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝘂𝘀. Pasal 80 ayat (1) UUPM menempatkan Penjamin Pelaksana Emisi Efek di antara pihak yang “wajib bertanggung jawab, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, atas kerugian yang timbul” bila Pernyataan Pendaftaran memuat informasi yang tidak benar tentang Fakta Material. Pembelaannya ada di ayat (3): pihak tersebut dapat lepas dari tanggung jawab bila membuktikan telah “bertindak secara profesional dan telah mengambil langkah-langkah yang cukup”. Pasal 81 ayat (1) memperluasnya kepada “Setiap Pihak yang menawarkan atau menjual Efek dengan menggunakan Prospektus”.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝗻𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝗹𝗮𝗻. Ketentuan penundaan masa penawaran umum masih merujuk pada Peraturan Nomor IX.A.2. Prospektus terkini mengutipnya sebagai hak emiten menunda paling lama tiga bulan sejak efektif, atau membatalkan, antara lain bila IHSG “turun melebihi 10% (sepuluh persen) selama tiga Hari Bursa berturut-turut”, terjadi bencana alam, perang, huru-hara, kebakaran, atau pemogokan yang berpengaruh signifikan, atau peristiwa lain yang ditetapkan OJK.

𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗽𝗼𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗗𝗶𝘁𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵𝗸𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝗺𝘂𝗻𝗱𝘂𝗿 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗿𝘂𝗻𝘁𝘂𝗵? Hak menunda atau membatalkan karena IHSG turun lebih dari 10% dalam tiga Hari Bursa, bencana, atau perang dirumuskan sebagai hak emiten. POJK 13/2025 hanya mewajibkan kontrak memuat “persyaratan pendahuluan” serta “masa berlaku dan pengakhiran perjanjian”, tanpa merinci alasan pengakhiran yang sah bagi penjamin emisi. Akibatnya, klausul market out atau keadaan kahar sepenuhnya diserahkan pada rumusan kontrak.

Di sinilah sengketa biasanya lahir. Penjamin emisi bisa berdalih keadaan memaksa berdasarkan Pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata. Namun, menurut hemat saya, jatuhnya harga pasar adalah persis risiko yang dijual dalam full commitment, dan imbal jasa penjaminan dibayar justru untuk menanggungnya. Dalil kahar atas penurunan pasar semata akan sulit diterima, kecuali kontrak secara tegas memasukkannya sebagai alasan pengakhiran.

𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶, 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝘁𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗴𝗮𝗴𝗮𝗹. Dalam simulasi PT Bebeb, seluruh 2 miliar saham dijamin satu penjamin emisi. Artinya, tidak ada pembagian porsi dan tidak ada anggota sindikasi yang bisa diminta menutup kekurangan. Bila penjamin emisi itu gagal menyediakan Rp 60 miliar untuk membeli sisa saham, Pasal 51 POJK 41/2020 memang menjatuhkan larangan perdagangan dan pembatasan akses sistem, tetapi sanksi itu tidak membayar emiten sepeser pun.

Posisinya juga rangkap. Penjamin emisi tunggal otomatis menjadi penjamin pelaksana emisi, dan karena Pasal 8 POJK 41/2020 mewajibkan Partisipan Admin berasal dari penjamin pelaksana emisi, ia pula yang menerima dana hasil penawaran untuk dan atas nama emiten (Pasal 53). Dana publik Rp 140 miliar dan kewajiban pembelian sisa Rp 60 miliar berada di tangan pihak yang sama. Pertanyaannya, bila penjamin emisi gagal bayar, bolehkah ia menahan atau memperjumpakan dana publik yang dipegangnya dengan imbal jasa atau klaim lain terhadap emiten? Menurut hemat saya, dana itu diterima “untuk dan atas nama Emiten” sehingga tidak dapat diperjumpakan, tetapi kontrak yang tidak mengaturnya secara tegas tetap membuka ruang sengketa.

Catatan ini berubah bila penawaran dijamin sindikasi penjamin emisi efek. Pasal 1282 KUHPerdata menyatakan perikatan tanggung renteng tidak dianggap ada kecuali dinyatakan tegas, sehingga emiten tidak otomatis dapat menagih kekurangan satu anggota sindikasi kepada anggota lainnya.

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗲𝗹𝗶. Dalam simulasi dengan satu penjamin emisi, kedudukannya sebagai penjamin pelaksana emisi membuat Pasal 80 ayat (1) UUPM langsung menjangkaunya bila Pernyataan Pendaftaran memuat informasi yang tidak benar tentang Fakta Material. Perdebatan tentang siapa saja yang bertanggung jawab baru melebar bila ada penjamin emisi peserta, karena Pasal 80 hanya menyebut penjamin pelaksana, sedangkan Pasal 81 ayat (1) menjangkau “Setiap Pihak yang menawarkan atau menjual Efek dengan menggunakan Prospektus”.

Sisi yang jarang dibahas justru muncul pada penjamin emisi tunggal. Setelah membeli 600 juta saham sisa, ia juga berkedudukan sebagai pembeli. Bila kemudian terungkap prospektus memuat informasi tidak benar, dapatkah ia menggugat PT Bebeb atas kerugiannya sebagai pemegang saham? Pasal 81 ayat (2) menutup hak pembeli yang “telah mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar”, dan penjamin pelaksana yang melakukan uji tuntas sendiri sulit mengaku tidak tahu.

𝗞𝗲𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁, 𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝘂𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻. Pasal 31 POJK 13/2025 hanya melarang penjualan sisa efek “sampai dengan Efek tersebut dicatatkan di Bursa Efek”. Sejak hari pertama perdagangan, penjamin emisi bebas melepasnya. Bagi investor ritel, ini risiko harga yang nyata. Bila pelepasan dilakukan dengan cara yang menciptakan gambaran semu atas permintaan atau harga, larangan dalam Pasal 90 sampai Pasal 92 UUPM tetap berlaku, dengan ancaman pidana dalam Pasal 104. Garis antara “melepas sisa penjaminan” dan “mengatur harga” inilah yang kerap diuji dalam pemeriksaan.

𝗞𝗲𝗹𝗶𝗺𝗮, 𝗲𝗺𝗶𝘁𝗲𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗯𝗮𝘆𝗮𝗿 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗮𝗶𝗹𝗶𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶. Kewajiban membeli sisa efek pada dasarnya utang uang yang sudah jatuh tempo. Namun permohonan pailit atau PKPU terhadap Perusahaan Efek tidak dapat diajukan kreditor secara langsung, melainkan melalui OJK, berdasarkan Pasal 8B UU OJK yang disisipkan melalui Pasal 8 angka 5 UU P2SK, jo. UU No. 37 Tahun 2004. Tata caranya diatur POJK 21/2022: kreditor, paling sedikit dua, harus lebih dulu mengajukan permohonan kepada OJK, yang menelaahnya paling lama 45 hari. Sepanjang yang saya telusuri, UU No. 4 Tahun 2026 tidak mengubah kewenangan eksklusif OJK ini. Jalur lain yang terbuka bagi emiten adalah gugatan wanprestasi atau arbitrase, sesuai klausul penyelesaian sengketa yang wajib ada dalam kontrak. Karena itu, rumusan forum sengketa dalam kontrak penjaminan bukan sekadar formalitas.

𝗞𝗲𝗲𝗻𝗮𝗺, 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶 𝘁𝘂𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹. Karena penjamin emisi tunggal selalu bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi, batas dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a POJK 3/2026 langsung berlaku. PEKU 2 hanya boleh menjadi penjamin tunggal PT Bebeb bila aset PT Bebeb tidak lebih dari Rp 250 miliar. Di atas itu, penjamin tunggalnya harus PEKU 3.

Persoalannya ada pada ukuran komitmen. Dalam simulasi, penjamin emisi menjamin Rp 200 miliar dan harus membeli sisa Rp 60 miliar, sementara MKBD minimum PEKU 2 hanya Rp 50 miliar. Dari naskah yang saya telusuri, tidak saya dapati batas eksplisit nilai full commitment yang boleh diambil satu penjamin emisi dibandingkan modalnya, selain disiplin MKBD dan manajemen risiko. Apakah frasa “secara terbatas” dalam Pasal 5 ayat (2) cukup untuk membatasi hal ini, atau perlu aturan pelaksana tersendiri, belum terjawab tuntas.

𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗛𝗮𝗹 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗗𝗶𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁

1. Full commitment berarti penjamin emisi wajib membeli sendiri efek yang tidak laku, dan dananya wajib tersedia sebelum distribusi efek (Pasal 50 ayat (2) POJK 41/2020). Gagal menyediakan dana berujung larangan sementara perdagangan di bursa.
2. Kontrak penjaminan emisi kini wajib memuat sebelas unsur minimum menurut Pasal 13 ayat (2) POJK 13/2025, termasuk bentuk penjaminan, porsi efek yang dijamin, syarat pendahuluan, pengakhiran, dan penyelesaian sengketa.
3. Alasan penjamin emisi untuk mundur saat pasar bergejolak tidak diatur rinci oleh POJK. Tanpa klausul market out yang tegas, dalil keadaan memaksa atas penurunan harga pasar sulit diterima.
4. Dengan satu penjamin emisi, seluruh risiko gagal bayar terpusat pada satu pihak yang sekaligus memegang dana publik. Emiten perlu menilai kemampuan keuangan penjamin emisi sejak awal, mengatur larangan perjumpaan dana dalam kontrak, dan memilih forum sengketa dengan cermat karena pailit atau PKPU terhadap Perusahaan Efek hanya melalui OJK.
5. Investor perlu membaca hasil penjatahan dan porsi yang diserap penjamin emisi. Larangan menjual sisa efek hanya berlaku sampai pencatatan, setelah itu tekanan jual dapat datang dari penjamin emisi itu sendiri.
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.

PENYELENGGARAAN BURSA MINERAL DAN KOMODITAS STRATEGIS - Tulisan Pertama

Penyelenggaraan bursa mineral dan komoditas strategis tulisan pertama asevy sobari lawyer konsultan hukum sektor jasa keuangan isnp law firm hkhsk
POJK 16/2026 mengatur cara kerja Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). yaitu: pasar yang terorganisir untuk perdagangan mineral dan komoditas strategis, termasuk derivatifnya, yang diatur dan diawasi oleh OJK.


Peraturan ini ditetapkan 17 September 2026 sebagai pelaksanaan Pasal 132A ayat (3) UU 4/2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) sebagaimana diubah dengan UU 4/2026, dan berlaku mulai 1 Januari 2027.

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗦𝗮𝗷𝗮 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗻𝘆𝗮

Penjelasan POJK membedakan dua hal yang mudah tertukar:
1. BMKS sebagai sistem pasarnya; dan
2. Bursa sebagai perseroan terbatas berizin OJK yang menjalankan fungsi perdagangan di dalam sistem pasar.

Pasal 2 menyebut 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗕𝗠𝗞𝗦 terdiri atas kelompok berikut.

B͟u͟r͟s͟a͟
Peran: Menyelenggarakan perdagangan dan menetapkan Peraturan Bursa.
Diawasi oleh OJK.

L͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ ͟K͟l͟i͟r͟i͟n͟g͟ ͟(͟L͟K͟)͟
Peran: Kliring, penjaminan, dan penyelesaian transaksi.
Diawasi oleh OJK.

L͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ ͟K͟u͟s͟t͟o͟d͟i͟a͟n͟ ͟E͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ ͟(͟L͟K͟E͟)͟
Peran: Mencatat, menyimpan, mengamankan, dan mengadministrasikan transaksi; menerbitkan Bukti Kepemilikan Elektronik.
Diawasi oleh OJK.

P͟e͟r͟a͟n͟t͟a͟r͟a͟ ͟P͟e͟r͟d͟a͟g͟a͟n͟g͟a͟n͟
Peran: Bertransaksi untuk diri sendiri dan/atau untuk Pengguna Jasa; berstatus Anggota Bursa.
Diawasi oleh OJK.

P͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟ ͟J͟a͟s͟a͟
Peran: Pihak yang memakai layanan BMKS; berstatus Anggota Bursa.
Diawasi oleh Bursa.

P͟e͟n͟g͟e͟l͟o͟l͟a͟ ͟G͟u͟d͟a͟n͟g͟
Peran: Mengelola gudang penyimpanan yang disetujui Bursa
Diawasi oleh Bursa.

L͟e͟m͟b͟a͟g͟a͟ ͟P͟e͟n͟i͟l͟a͟i͟ ͟K͟e͟s͟e͟s͟u͟a͟i͟a͟n͟ ͟(͟L͟P͟K͟)͟
Peran: Memeriksa mutu dan kuantitas.
Diawasi oleh Bursa.

P͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ ͟P͟e͟n͟u͟n͟j͟a͟n͟g͟ (akuntan publik, notaris, konsultan hukum)
Peran: Menyediakan jasa di sektor BMKS.
Wajib terdaftar di OJK

P͟i͟h͟a͟k͟ ͟L͟a͟i͟n͟
Dalam POJK 16/2026 tidak dijelaskan lebih lanjut siapa yang dimaksud dengan “pihak lain” dan apa perannya. Hanya saja “pihak lain” ditempatkan sebagai salah satu unsur anggota Bursa bersama Pengguna Jasa dan Perantara Perdagangan. Diawasi oleh Bursa.

Tiga infrastruktur inti yaitu Bursa, LK, dan LKE wajib berizin usaha dari OJK dan memenuhi modal disetor minimum.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶 𝗕𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻

Transaksi BMKS dilakukan melalui sistem perdagangan Bursa yang terintegrasi dengan infrastruktur BMKS, dalam tiga tahap (Pasal 49), sebagai berikut:

𝟭. 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻.

Mineral atau komoditas strategis hanya dapat diperdagangkan setelah memperoleh status layak diperdagangkan (tradable) dari LPK. Statusnya diberikan berdasarkan pemeriksaan mutu, verifikasi kuantitas, penyimpanan pada gudang yang disetujui Bursa, pemenuhan persyaratan administratif, dan persyaratan lain dalam Peraturan Bursa (Pasal 50 ayat 2). Setelah itu LKE menerbitkan Bukti Kepemilikan Elektronik (Pasal 51).

Gudang dan penilai mutu punya tanggung jawab sendiri. Pengelola Gudang wajib mendapat persetujuan Bursa dan bertanggung jawab atas penyimpanan dan penyerahan barang yang dikuasainya, dan tanggung jawab itu tidak beralih kepada Bursa atau OJK (Pasal 34 dan 35). LPK wajib berbadan hukum Indonesia, mendapat persetujuan Bursa, dan bertanggung jawab atas kesesuaian mutu dan kuantitas dengan standar yang berlaku (Pasal 36).

𝟮. 𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻.

Pengguna Jasa memasukkan order secara langsung atau melalui Perantara Perdagangan. Harga terbentuk dari mekanisme pasar. Harga transaksi dapat dipakai sebagai Harga Acuan Indonesia, dengan metodologi yang disusun oleh Bursa dan telah mendapat persetujuan OJK sebelumnya, dievaluasi berkala, dan dipublikasikan secara transparan.

OJK dapat memerintahkan Bursa menyesuaikan metodologi itu bila diperlukan untuk menjaga integritas pasar (Pasal 53 sampai 57).

Setiap produk wajib memiliki spesifikasi kontrak yang jelas: aset yang mendasari, mutu, satuan perdagangan, mekanisme penyelesaian, dan penyerahan fisik bila berlaku (Pasal 58).

𝟯. 𝗣𝗮𝘀𝗰𝗮-𝗣𝗲𝗿𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻.

Penyelesaian transaksi dilakukan melalui Lembaga Kliring (LK). Penyelesaian yang telah dilaksanakan sesuai Peraturan LK mengikat para pihak, dan LK wajib memiliki mekanisme penanganan kegagalan penyelesaian, termasuk penggunaan sumber daya keuangan sesuai dengan Peraturan LK (Pasal 60 sampai 62).
—
Disclaimer: artikel ini adalah pendapat hukum pribadi atas ketentuan yang belum terikat dan belum diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu. Pendapat hukum yang berbeda sangat mungkin diberikan atas ketentuan yang sama yang diberikan oleh sarjana / praktisi / ahli hukum lain terlebih setelah diikat dan diterapkan pada peristiwa/fakta hukum tertentu.